AIMERE,SELATANINDONESIA.COM โ Pagi di pesisir selatan Kabupaten Ngada itu belum sepenuhnya terang ketika Ricard Mangu Lizu memanggul dua kantong berisi beras, minyak goreng, telur ayam, dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Angin dari laut berembus pelan, menyapu jalan kampung yang masih lengang. Ia melangkah menyusuri lorong-lorong sempit, mengetuk pintu rumah warga satu per satu. Tak ada atribut partai, tak ada spanduk, tak pula pengeras suara. Yang ada hanya sapaan pelan dan senyum yang berusaha menguatkan.
Ricard adalah pimpinan kecamatan dari Partai Golongan Karya (Golkar) di Aimere, Kabupaten Ngada. Namun bagi warga lanjut usia dan penyandang disabilitas di Desa Inerie, Desa Sebiwuli, dan Desa Warupele 2, ia lebih dikenal sebagai โRicard Mokeโ, penjual arak tradisional khas daerah, moke Aimere, yang saban hari berjualan untuk menghidupi keluarga kecilnya.
Sejak 2023, ia rutin menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu kaum jompo dan difabel. Pada kunjungan terbarunya pekan ini, sedikitnya 25 warga menerima bantuan sembako. Nilainya mungkin tak seberapa, tetapi bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan, perhatian itu terasa jauh lebih besar dari isi kantong plastik yang dibawa.
Di sebuah rumah berdinding papan yang mulai lapuk, seorang nenek menyambutnya dengan mata berkaca-kaca. Ia hidup sendiri, dengan penglihatan yang kian kabur. Bantuan beras beberapa kilogram berarti ia tak perlu memikirkan makan untuk beberapa hari ke depan. โTerima kasih, Nak,โ ucapnya lirih. Ricard hanya mengangguk, menepuk pelan bahunya.
Di rumah lain, seorang penyandang disabilitas yang telah lama terbaring menerima kunjungan itu dengan senyum lemah. Orangtuanya bercerita tentang biaya hidup yang terus meningkat dan pekerjaan yang tak menentu. Ricard mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.
โDulu saya juga pernah susah,โ katanya pelan. โSaya tahu rasanya kalau tidak ada yang datang, tidak ada yang peduli.โ
Pengalaman hidup itulah yang menjadi akar kepeduliannya. Ia tak lahir dari keluarga berada. Usaha kecil menjual arak Aimere dijalaninya dengan kerja keras. Dari hasil penjualan itulah ia menyisihkan sebagian rezeki. Baginya, membantu bukan soal besar-kecilnya nominal, melainkan konsistensi untuk hadir.
Dalam setiap langkahnya, ia didampingi sang istri, Wanlina Geza, serta kedua putra mereka, Julius Fanorio Mangu dan Noel Elizer Lizu Mangu. Keluarga kecil itu kerap ikut serta, menjadikan kegiatan sosial sebagai bagian dari pendidikan nilai bagi anak-anak mereka, bahwa rezeki yang diterima selalu punya hak orang lain di dalamnya.
Di tengah dinamika politik lokal yang kerap diwarnai persaingan dan janji, apa yang dilakukan Ricard berjalan nyaris tanpa sorotan. Ia tak menunggu momentum pemilu. Ia datang bahkan ketika tak ada agenda politik apa pun.
Bagi warga miskin dan difabel di Aimere, kehadiran itu menghadirkan rasa dilihat dan dihargai. Dalam realitas kemiskinan pedesaan, ketika akses terhadap layanan kesehatan, pekerjaan layak, dan jaminan sosial belum sepenuhnya merata, sentuhan personal menjadi penguat yang tak tergantikan.
Ricard menyadari, ia tak bisa menyelesaikan semua persoalan. Bantuan sembako bukan solusi permanen bagi kemiskinan struktural. Namun ia percaya, perubahan besar sering kali bermula dari langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
โKalau kita tidak bisa membantu banyak orang sekaligus, bantu satu dulu. Yang penting jangan berhenti,โ ujarnya.
Di ujung hari, ketika matahari mulai condong ke barat dan jalanan kampung kembali lengang, Ricard pulang dengan kantong yang telah kosong. Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang terisi: keyakinan bahwa politik, ketika berpijak pada kemanusiaan, tak harus selalu berbicara soal kekuasaan.
Di rumah-rumah sederhana yang ia kunjungi, tersimpan harapan kecil, bahwa di tengah keterbatasan, masih ada yang mengetuk pintu. Masih ada yang peduli.*/alexsongkares/llt













Komentar