Pentahbisan Uskup Larantuka, Gereja dan Masyarakat Merayakan Harapan Baru
LARANTUKA,SELATANINDONESIA.COM โ Ribuan umat memadati Gereja Katedral Reinha Rosari, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (11/2/2026) pagi. Dentang lonceng bersahut-sahutan, koor umat menggema, dan wajah-wajah penuh harap mengiringi satu momentum penting bagi Gereja Katolik di Tanah Reinha Rosari: pentahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Pr., sebagai Uskup Keuskupan Larantuka.
Sekitar 10.000 umat dan undangan menghadiri misa dan upacara pentahbisan yang dimulai pukul 08.00 Wita. Liturgi dipimpin Uskup Emeritus Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung sebagai penahbis utama, didampingi Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu.
Momentum tersebut menandai babak baru kepemimpinan Gereja Larantuka setelah Paus Leo XIV pada 22 November 2025 menunjuk Mgr. Yohanes Hans Monteiro menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang memasuki masa purnatugas setelah lebih dari dua dekade menggembalakan umat sejak 18 Juni 2004.
Liturgi Sarat Makna
Rangkaian tahbisan berlangsung khidmat. Setelah pembacaan mandat apostolik, para uskup menumpangkan tangan ke atas kepala uskup terpilih, dilanjutkan doa tahbisan. Dalam tradisi Gereja Katolik, penumpangan tangan menjadi tanda kesinambungan apostolik, simbol bahwa tugas penggembalaan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kepala uskup baru kemudian diurapi dengan minyak krisma, tanda pengudusan. Ia menerima Kitab Injil sebagai lambang tugas mewartakan sabda, cincin sebagai simbol kesetiaan kepada Gereja, mitra sebagai tanda panggilan menuju kekudusan, dan tongkat gembala sebagai lambang tanggung jawab menggembalakan umat.
Prosesi berlanjut dengan pengantaran uskup baru ke kursi katedralโsimbol resmi otoritas penggembalaanโdisusul salam persaudaraan dari para uskup.
Hadir Tokoh Nasional dan Daerah
Perayaan itu juga dihadiri sejumlah tokoh Gereja dan pejabat negara, antara lain Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Michael A. Pawlowicz, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI Drs. Suparman, S.E., M.Si., Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, serta Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.
Hadir pula anggota DPR RI Melchias Markus Mekeng, Ketua DPRD NTT Emelia Julia Nomleni, sejumlah kepala daerah di Flores Timur, Lembata, dan Sikka, serta para uskup emeritus dari berbagai keuskupan.
Kehadiran lintas unsur itu memperlihatkan kuatnya ikatan historis dan sosial Gereja Larantuka dengan masyarakat NTT.
Pesan Penggembalaan
Dalam sambutannya, Mgr. Fransiskus Kopong Kung menyebut hari pentahbisan sebagai rahmat besar bagi Gereja Larantuka. Ia berpesan agar uskup baru menerima tugas penggembalaan dengan kerendahan hati, keberanian iman, dan semangat pelayanan.
โJadilah gembala yang dekat dengan umat, kuat dalam doa, setia pada ajaran Gereja, serta peka terhadap jeritan kaum kecil dan tersingkir,โ ujarnya.
Duta Besar Vatikan Mgr. Pawlowicz menyampaikan salam dan berkat dari Paus Leo XIV. Ia menegaskan bahwa tahbisan episkopal bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan panggilan suci untuk melayani umat Allah dengan hati seorang gembala yang rendah hati dan penuh kasih.
Sementara itu, Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin menekankan bahwa tahbisan uskup adalah panggilan pelayanan, bukan kehormatan pribadi. โSeorang uskup dipanggil untuk menjadi bapak, guru iman, dan pelayan persatuan,โ katanya.
Berjalan Bersama Umat
Dalam sambutan perdananya sebagai uskup, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada umat serta semua pihak yang terlibat dalam perayaan tersebut.
โHari ini adalah rahmat besar bagi Gereja dan secara khusus bagi Keuskupan Larantuka. Dalam kerendahan hati, saya menerima perutusan ini sebagai pelayanan, untuk berjalan bersama umat, menggembalakan dengan kasih, serta membangun Gereja yang semakin hidup, bersaudara, dan misioner,โ ujarnya.
Ia juga memohon dukungan doa agar dapat menjalankan tugas seturut kehendak Tuhan. Devosi kepada Bunda Maria Reinha Rosari, yang mengakar kuat dalam spiritualitas umat Larantuka, disebutnya sebagai penopang perjalanan penggembalaan ke depan.
Harapan di Tanah Reinha Rosari
Larantuka dikenal sebagai pusat tradisi Katolik yang kuat di Indonesia timur, terutama melalui perayaan Semana Santa yang mendunia. Dalam konteks itu, kepemimpinan baru diharapkan mampu merawat warisan iman sekaligus menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan ekologis yang dihadapi masyarakat Flores Timur.
Pentahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro bukan hanya peneguhan struktur Gereja, melainkan juga simbol keberlanjutan harapan. Di tengah dinamika zaman, umat Larantuka kini menatap babak baru perjalanan iman mereka bersama seorang gembala yang dipercaya menuntun, menguatkan, dan mempersatukan.*/ml/llt












Komentar