BALI,SELATANINDONESIA.COM โ Di sebuah sudut tenang Ubud yang dikelilingi denyut seni dan aroma malam yang basah oleh hujan, selembar kain putih menjadi ruang belajar yang tak biasa bagi Mayana Tysellanata Saleky.
Kain itu bukan sekadar media membatik. Ia menjelma halaman sunyi tempat seorang remaja Putri Literasi Budaya Indonesia 2025 โmembacaโ kehidupan dengan perlahan, hati-hati, dan penuh kekaguman.
Dengan canting di tangan, Mayana duduk lesehan di hadapan Ibu Iluh, seorang pembatik yang sabar menuntunnya mengenal bahasa baru: bahasa pola, garis, dan ketidakterburu-buruan.
Garis pertamanya belum sempurna. Bentuk kupu-kupu dan bunga yang ia coba hadirkan di atas kain justru tampak ragu, seperti kata-kata yang baru belajar disusun.
Namun di ruang sederhana itu, kesalahan bukanlah kegagalan. โBatik itu bahasa, Nak. Kalau buru-buru nanti salah arti,โ begitu Ibu Iluh mengingatkan, pelan namun menancap dalam.
Dari sana, Mayana belajar bahwa kain putih tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta waktu. Dan dalam waktu itulah, makna tumbuh.
Dukungan yang Menenun Perjalanan
Perjalanan Mayana ke Bali bukan berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari rangkaian perjalanan literasi budaya yang lebih luas, yang ditenun oleh banyak tangan yang percaya pada masa depan generasi muda.
Di balik langkahnya, hadir dukungan dari PT Bo’a Development yang menjadi salah satu penggerak awal perjalanan ini. Bersama itu, NIHI Rote, Rote Hospitality Academy (RHA), dan Yayasan Kesejahteraan Rote Peduli (YKRP) turut menjadi bagian dari jejaring yang mengantar langkahnya menembus ruang-ruang budaya Nusantara.
Dukungan itu tidak hadir sebagai sorotan megah, melainkan sebagai jalan yang diam-diam membuka kesempatan agar seorang remaja dari Rote bisa berdiri di Ubud, menyentuh canting, dan belajar membaca budaya dengan cara yang paling sederhana: mengalami langsung.
Bali, Kain Putih, dan Pelajaran tentang Waktu
Di Ubud, Mayana tidak hanya belajar membatik. Ia belajar tentang jeda.
Tentang bagaimana setiap titik malam (lilin batik) tidak bisa dikejar tergesa-gesa. Tentang bagaimana keindahan justru lahir dari tangan yang sabar, bukan tangan yang cepat.
โKami melihat dan mengenal lebih dekat budaya serta kearifan lokal sebagai kekayaan bangsa,โ ujar Mayana, mengenang perjalanan yang menjadi bagian lanjutan dari kegiatan PPBLI di Yogyakarta sebelumnya.
Baginya, kain putih itu seperti hidup: kosong, tetapi penuh kemungkinan. Dan canting adalah cara manusia menuliskan makna di atasnya.

Putri Literasi Budaya Indonesia 2025 Rote Ndao, Mayana Tysellanata Saleky, dan hasil guratannya di Ubud, Bali belum lama ini. Foto: dok.pribadi
Jejak yang Dibawa Pulang ke Rote
Ketika perjalanan itu berakhir, yang dibawa pulang Mayana bukan hanya motif yang mulai terbentuk di kainnya, tetapi juga cara pandang baru tentang budaya.
Bahwa tradisi bukan sekadar sesuatu yang dilihat dari jauh, melainkan sesuatu yang disentuh, dijalani, dan dihormati dalam prosesnya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan itu. Mereka adalah PT Boโa Development, NIHI Rote, YKRP, dan Rote Hospitality Academy yang menurutnya telah menjadikan perjalanan ini lebih dari sekadar kunjungan budaya, tetapi sebuah ruang belajar tentang kehidupan.
Di atas kain putih Ubud, Mayana belajar satu hal yang tidak tertulis di buku mana pun: bahwa budaya, seperti hidup, selalu membutuhkan waktu untuk benar-benar dipahami.
Dan dalam diamnya canting yang menyentuh kain, sebuah generasi sedang belajar menulis maknanya sendiri. */sr/ek/llt













Komentar