Sinergi PusatโDaerah Diuji di Rote Ndao, K-SIGN Didorong Jadi Motor Industri Garam
BAโA,SELATANINDONESIA.COM โ Hamparan lahan garam di bagian timur Pulau Rote siang itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Di tengah terik matahari, rombongan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia meninjau langsung perkembangan pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN), sebuah proyek yang diharapkan menjadi tulang punggung baru industri garam nasional.
Kunjungan yang dipimpin Inspektur Jenderal KKP, Ade Tajudin Sutiawarman, itu tidak sekadar seremonial. Pemerintah pusat ingin memastikan proyek strategis nasional tersebut berjalan sesuai rencana, baik dari sisi kualitas pembangunan maupun ketepatan waktu pelaksanaan.
Sejumlah titik menjadi fokus peninjauan, mulai dari Desa Matasio dan Serubeba di Kecamatan Rote Timur hingga Desa Daima dan Deurendale di Kecamatan Landuleko. Kawasan-kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat produksi garam modern yang terintegrasi, sekaligus menjawab persoalan klasik produksi garam rakyat yang selama ini bergantung pada cuaca dan teknologi sederhana.
Wakil Bupati Rote Ndao, Apremoi Dudelusy Dethan, yang menyambut langsung kunjungan tersebut menegaskan kesiapan daerah untuk berjalan seiring dengan kebijakan pusat. Menurut dia, kehadiran pemerintah pusat memberi sinyal kuat bahwa pengembangan industri garam di wilayah terluar Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata.
โKami melihat ini sebagai momentum besar. K-SIGN bukan hanya proyek pembangunan fisik, tetapi pintu masuk bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,โ ujarnya.
Selama ini, Rote Ndao dikenal sebagai salah satu sentra produksi garam di Nusa Tenggara Timur. Namun, keterbatasan infrastruktur dan teknologi membuat produktivitas dan kualitas garam belum optimal. Melalui K-SIGN, pemerintah menargetkan perubahan mendasar: dari produksi tradisional menuju sistem industri yang lebih efisien dan berdaya saing.
Dukungan pemerintah pusat terhadap proyek ini juga menjadi bagian dari agenda besar penguatan sektor kelautan dan perikanan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Dalam konteks itu, K-SIGN ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan industri garam nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Bagi pemerintah daerah, tantangannya tidak ringan. Selain memastikan pembangunan berjalan tepat waktu, keberlanjutan program juga bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, tata kelola, dan keterlibatan masyarakat lokal.
Namun optimisme tetap mengemuka. Sinergi antara pusat dan daerah diyakini menjadi kunci agar proyek ini tidak berhenti sebagai infrastruktur semata, melainkan benar-benar menggerakkan ekonomi lokal.
Jika berjalan sesuai rencana, K-SIGN di Rote Ndao bukan hanya akan mengubah lanskap produksi garam, tetapi juga membuka babak baru bagi wilayah selatan Indonesia sebagai salah satu simpul penting industri garam nasional.*/ DKISP Kab. Rote Ndao/llt













Komentar