KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Pagi itu, hamparan sawah di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, berubah menjadi titik temu komitmen besar: Nusa Tenggara Timur (NTT) menegaskan langkah menuju swasembada pangan berkelanjutan.
Di bawah terik matahari Februari, ratusan petani bersama pemerintah daerah menanam padi secara serentak, menandai babak baru konsolidasi sektor pertanian di wilayah kepulauan kering tersebut.
Gerakan Tanam Padi Serentak (Gertam) se-NTT yang digelar Senin (16/2/2026) bukan sekadar seremoni musim tanam. Pemerintah Provinsi NTT ingin memastikan bahwa kedaulatan pangan tidak berhenti pada jargon, melainkan terukur dalam peningkatan luas tanam, produksi, hingga tata kelola pascapanen.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan, ketahanan pangan adalah fondasi kedaulatan daerah sekaligus kontribusi nyata bagi Indonesia. โPetani adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dari tangan mereka, pangan tersedia dan kehidupan berjalan. Karena itu, membangun swasembada pangan harus menjadi kerja kolektif,โ ujarnya di sela penanaman.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Bupati Kupang Yosef Lede, jajaran Forkopimda, perwakilan Kementerian Pertanian RI, penyuluh pertanian, hingga akademisi Universitas Nusa Cendana.
Lompatan Produksi dan Optimisme Baru
Optimisme pemerintah daerah bukan tanpa dasar. Dalam dua tahun terakhir, produksi padi NTT menunjukkan tren meningkat. Pada 2025, produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 968.324 tonโnaik 36,81 persen dibanding tahun sebelumnya. Produksi beras pun melonjak menjadi 567.178 ton, meningkat 35,38 persen dari 2024.
Kenaikan itu tidak hanya memperkuat cadangan pangan lokal, tetapi juga meningkatkan serapan oleh Perum Bulog NTT hingga 6.056 ton. Bagi pemerintah provinsi, capaian tersebut menjadi pijakan menuju target yang lebih ambisius pada 2026: produksi 1.186.456 ton GKG dan 694.944 ton beras, dengan perluasan luas tanam menjadi 273.800 hektare.
โNTT harus mampu memenuhi kebutuhan berasnya sendiri yang rata-rata sekitar 650 ribu ton per tahun. Bahkan, ke depan kita dorong ada surplus,โ kata Gubernur Melki.
Dukungan pemerintah pusat dinilai menjadi faktor penting. Gubernur menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman atas bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), traktor, pompa air, benih, dan pupuk. Dukungan itu, menurut dia, mempercepat modernisasi pertanian di lahan-lahan kering NTT.
Diversifikasi untuk Daerah Kering
Meski fokus pada padi, Pemprov NTT tidak menutup mata terhadap karakteristik wilayahnya yang didominasi lahan kering. Wakil Gubernur Johni Asadoma mendorong diversifikasi komoditas, terutama sorgum dan jagung, sebagai strategi adaptif.
โDi daerah seperti Sabu Raijua yang kering, sorgum dan jagung lebih cocok. Kita tidak boleh terpaku hanya pada beras. Substitusi pangan harus diperkuat,โ ujarnya.
Diversifikasi dinilai penting untuk memastikan swasembada pangan yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar angka produksi, tetapi juga membangun sistem pangan yang resilien terhadap perubahan iklim.
Kabupaten Kupang Pasang Target Tinggi
Di tingkat kabupaten, ambisi serupa mengemuka. Bupati Kupang Yosef Lede menargetkan produksi padi 2026 mencapai 100.000 ton, naik dari 87.000 ton tahun lalu. Strategi yang ditempuh antara lain mekanisasi melalui sistem brigade alsintan, program cetak sawah rakyat, optimalisasi lahan tadah hujan, serta pembentukan BUMD Agrobisnis untuk menjaga stabilitas harga.
Langkah ini diharapkan memperkuat posisi tawar petani sekaligus memastikan hasil panen terserap optimal di pasar lokal.
Dari Menanam hingga Nilai Tambah
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan Pemerintah Provinsi NTT pada Tahun 2026 menargetkan peningkatan luas tanam padi sebesar 7,90% (273.800 ha) dari tahun 2025 seluas 253.700 ha dengan target produksi padi sebesar 1.186.456 Ton GKG dan produksi beras 694.944 Ton. Hal tersebut didasarkan untuk memenuhi rata-rata kebutuhan beras NTT di kisaran 650.000 ton/tahun.
Ia juga menjelaskan capaian Pemerintah Provinsi NTT yang meraih Pin Penghargaan Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian RI pada Januari 2026 atas peningkatan signifikan produksi padi. โUntuk pencapaian produksi tersebut, oleh Kementerian Pertanian memberikan Pin Swasembada bagi 5 (lima) provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, Banten dan Papua Selatan. Kami juga memberi apresiasi kepada 3 (tiga) Kabupaten dengan produksi padi tertinggi di NTT yaitu Manggarai Barat, Kupang dan Sumba Timur,โ jelas Joaz.
Gerakan tanam serentak di Manusak menjadi pesan simbolik: membangun Indonesia yang kuat dimulai dari desa-desa. Dari lahan sawah yang ditanami bersama, NTT menegaskan arah pembangunan, bahwa swasembada pangan bukan sekadar target tahunan, melainkan gerakan berkelanjutan yang mengakar pada gotong royong dan keberpihakan pada petani.*/meldo/llt













Komentar