WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM โ Hamparan lahan seluas satu hektar di Desa Praikaroku Jangga, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Sabtu (14/2/2026), menjadi titik awal harapan baru bagi pengembangan kopi robusta di Kabupaten Sumba Tengah. Di lahan itu, Bupati Paulus S. K. Limu bersama tiga kelompok tani menanam sekitar 1.000 anakan kopi robusta, menandai penetapan desa tersebut sebagai desa percontohan.
Penanaman dilakukan bersama Kelompok Tani Kaborang Lawandu, Milla Ndakarai, dan Namu Tumalang. Hadir pula Sekretaris Daerah, staf ahli bupati, pimpinan perangkat daerah, camat, kepala desa, serta penyuluh pertanian lapangan. Kegiatan itu tidak sekadar seremoni, melainkan simbol perubahan orientasi ekonomi masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Bupati Paulus mengakui bahwa perubahan pola pikir bukanlah proses yang mudah. Selama ini, sebagian masyarakat dinilai cenderung bertahan pada pola pertanian tradisional. Namun, inisiatif menanam kopi robusta dinilai sebagai lompatan penting menuju komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi.
โDari desa ini akan menjadi cikal bakal menanam sejuta harapan kopi robusta,โ ujarnya.
Menurut dia, pada masa awal produksiโdua hingga tiga tahun pertama, satu pohon robusta diperkirakan menghasilkan dua kilogram biji kopi. Dengan asumsi 1.000 pohon produktif, total panen dapat mencapai 2.000 kilogram. Jika harga pasar berada di kisaran Rp80.000 per kilogram, potensi pendapatan kotor bisa menyentuh Rp160 juta per hektar.
Dalam fase produksi optimal, hasil panen bahkan diproyeksikan mencapai lima kilogram per pohon. Angka itu dinilai cukup menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat struktur ekonomi desa.
Meski demikian, Bupati Paulus menegaskan bahwa pengembangan kopi tidak menggantikan peran pertanian sawah. Keduanya, kata dia, harus berjalan beriringan sebagai fondasi ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah daerah menargetkan hingga 2030 sebanyak satu juta pohon kopi dan satu juta pohon pelindung sengon tertanam di wilayah Sumba Tengah.
Lebih jauh, ia mendorong pembentukan komunitas kecil beranggotakan lima hingga sepuluh orang sebagai pionir penggerak kelompok tani. Komunitas ini diharapkan menjadi simpul pembelajaran, penguatan kapasitas, dan konsolidasi produksi.
Langkah Praikaroku Jangga kini diposisikan sebagai model. Jika berhasil, desa ini dapat menjadi lokomotif yang menarik gerbong-gerbong desa lain untuk ikut bergerak, menjadikan kopi robusta bukan sekadar tanaman, melainkan strategi pembangunan jangka panjang bagi generasi mendatang.*/ProkopimSTeng/llt













Komentar