KUPANG,SELATANINDONESIA.COM — Di tengah riuh kota pesisir yang menjadi simpul perjumpaan beragam etnis dan budaya, sekelompok umat Katolik asal Jawa menyalakan kembali pelita kebersamaan. Senin (16/2/2026) malam itu, Perayaan Ekaristi diwarnai suasana khidmat dan haru, menandai pengukuhan pengurus Paguyuban Jawi Rosario (PaJeRo) Kupang masa bakti 2026–2029.
Misa pengukuhan dipimpin oleh RD. Fransiskus Xaverius Paut dan Romo Selebran, P. Albertus Indra OCD ,. Di hadapan puluhan anggota yang memenuhi ruang ibadah, Romo yang akrab disapa Faris itu menyampaikan apresiasi atas kehadiran PaJeRo sebagai ruang perjumpaan iman sekaligus pengikat solidaritas umat perantau.
Menurut dia, keberadaan paguyuban seperti PaJeRo memiliki arti penting dalam dinamika Gereja lokal. Di wilayah Keuskupan Agung Kupang yang terus bertumbuh, komunitas basis berbasis kultural dapat menjadi simpul penguatan iman sekaligus mitra pastoral.
“Sebagai paguyuban yang berada di wilayah Keuskupan Agung Kupang, mari kita berkolaborasi,” ujar Romo Faris. Ia meminta pengurus yang baru segera melaporkan kehadiran resmi PaJeRo kepada keuskupan agar program kerja yang disusun dapat selaras dengan visi-misi pastoral, termasuk program lima tahunan yang menekankan penguatan pendidikan Katolik menuju Indonesia Emas.

Para pengurus PaJeRo Kupang saat misa pengukuhan, Senin (16/2/2026). Foto: bosco
Momentum pengukuhan ini sekaligus menjadi titik balik kebangkitan. Ketua PaJeRo periode 2026–2029, Yustina Widhiwuryani, dalam sambutannya menuturkan perjalanan paguyuban yang tidak selalu mulus. PaJeRo sejatinya telah terbentuk sejak 2023, namun dalam perjalanannya sempat mengalami kevakuman.
“Pengurus sudah ada, tetapi belum berjalan sesuai visi-misi awal. Hari ini menjadi harapan baru agar ke depan lebih baik,” kata Yustina.
Ia berkisah, gagasan membentuk paguyuban ini lahir dari pengalaman keseharian para perantau Jawa Katolik di Kupang. Di tengah kemajemukan kota, mereka merindukan ruang kebersamaan yang bukan hanya bernuansa kultural, tetapi juga berakar kuat pada iman Katolik. Apalagi, komunitas perantau dari latar belakang keyakinan lain telah lebih dulu memiliki wadah berhimpun.
Dari kerinduan itu, sejumlah umat Jawa Katolik berinisiatif membangun Paguyuban Jawi Rosario—sebuah nama yang merujuk pada devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario, sekaligus simbol kesetiaan dalam persekutuan.
Per 1 Februari 2026, kepengurusan baru resmi terbentuk. Dengan jumlah anggota yang telah terdaftar mencapai ratusan orang, tantangan ke depan bukan lagi sekadar menghimpun, melainkan menggerakkan. Yustina berharap seluruh anggota terlibat aktif, bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai subyek yang menumbuhkan paguyuban.
“Kami mohon anggota PaJeRo aktif dalam kebersamaan dan kekeluargaan. Semoga PaJeRo tetap eksis, semakin kuat, dan semakin solid. Dan kami akan melaporkan kehadiran resmi PaJeRo sebgai Kerasulan Awam (KERAWAM) di Keuskupan Agung Kupang,” ujarnya.
Di kota yang menjadi beranda timur Indonesia itu, PaJeRo kini memulai langkah baru. Bukan sekadar paguyuban kedaerahan, melainkan ruang spiritual yang merawat iman, memperkuat persaudaraan, dan menjembatani kearifan budaya dengan panggilan Gereja setempat. Di tangan Yustina dan jajaran pengurus baru, pelita yang sempat redup itu kembali menyala.*/bosco/llt













Komentar