Mgr. Petrus Turang Di Mata Gubernur Melki Laka Lena; Sosok Inovatif Penggerak Ekonomi Umat

80
Uskup Emeritus, Mgr. Petrus Turang, Pr

Kupang, SELATANINDONESIA.COM – Kabar duka menyelimuti umat Katolik dan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) atas berpulangnya Uskup Emeritus KeusSkupan Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr. Ia meninggal dunia pada Jumat pagi, 4 April 2025, pukul 06.20 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.

Kepergian Mgr. Petrus Turang meninggalkan duka mendalam, termasuk bagi Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Menurutnya, Mgr. Turang bukan sekadar pemimpin rohani bagi umat Katolik di enam kabupaten di NTT, tetapi juga seorang inovator yang terus mendorong pembangunan ekonomi berbasis komunitas gerejawi.

“Saya menyampaikan duka yang mendalam, baik secara pribadi maupun sebagai Gubernur NTT, mewakili seluruh masyarakat NTT atas berpulangnya Mgr. Petrus Turang. Beliau adalah sosok inspiratif yang selalu berpikir jauh ke depan untuk kesejahteraan umat dan masyarakat NTT,” ujar Gubernur Melki Laka Lena yang dihubungi  SelatanIndonesia.com, Jumat (4/4/2025).

Menurutnya, Mgr. Petrus Turang adalah sosok yang apa adanya, berbicara blak-blakan, dan penuh kasih sayang. Dedikasinya dalam mengurus umat di Keuskupan Agung Kupang—yang mencakup Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Alor, Sabu Raijua, dan Rote Ndao—sangat luar biasa.

Sebagai sosok senior, Uskup Turan juga dikenal sebagai figur yang selalu merangkul dan mencairkan suasana dalam berbagai acara. Perannya sangat besar dalam membangun harmoni antartokoh agama di NTT.

“Kami semua berterima kasih atas kehadiran beliau sebagai Uskup Agung Kupang. Beliau telah memberikan warna dalam dinamika pembangunan dan kehidupan Keuskupan Agung Kupang hingga pensiun, yang kemudian dilanjutkan oleh Uskup Rony Pakaenoni,” kata Melki.

Dedikasi dalam Pembangunan Ekonomi Umat

Selain menjadi pemimpin rohani, Mgr. Turang juga sangat aktif dalam penggerakan ekonomi umat. Ia percaya bahwa gereja harus turut serta dalam pembangunan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Melalui program-program sosial ekonomi gereja, ia mendorong partisipasi umat dalam kegiatan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Dengan jaringan luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, Mgr. Turang sering membawa berbagai inovasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia kerap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung program pengembangan ekonomi di NTT.

Sosok yang Inklusif dan Pemersatu

Selain dikenal sebagai pemimpin yang inovatif, Mgr. Turang juga memiliki kepribadian yang inklusif dan merangkul semua golongan. Ia aktif dalam membangun hubungan harmonis antarumat beragama di NTT, menjadikan gereja sebagai ruang terbuka bagi dialog dan kerja sama lintas agama.

Sebagai pribadi yang hangat, ia selalu mencairkan suasana dalam berbagai pertemuan dan acara. Bahkan setelah pensiun pada 9 Maret 2024 dan menyerahkan kepemimpinan kepada Mgr. Hironimus Pakaenoni, ia tetap memberikan perhatian besar terhadap perkembangan umat di NTT.

“Ketika saya sering bertanya tentang kesehatannya, beliau selalu menjawab, ‘Tidak usah pikirkan saya, Pak Gubernur.’ Beliau lebih memilih berbicara tentang program-program produktif untuk membangkitkan ekonomi umat,” kenang Gubernur Melki Laka Lena.

Warisan dan Kenangan Abadi

Kepergian Mgr. Petrus Turang menjadi kehilangan besar bagi umat Katolik dan masyarakat NTT. Namun, warisan kepemimpinannya, baik dalam bidang rohani maupun pembangunan sosial ekonomi, akan terus dikenang dan diteruskan oleh generasi penerus.

“Selamat jalan, Uskup Turang. Semoga menjadi pendoa bagi Uskup Rony, para imam, biarawan, biarawati, dan seluruh umat Keuskupan Agung Kupang dari surga. Doakan kami yang masih berjuang di dunia ini,” tutup Gubernur Melki Laka Lena.

Riwayat Hidup dan Imamat Mgr. Petrus Turang

Mgr. Petrus Turang lahir di Tataaran, Manado, Sulawesi Utara, pada 13 Februari 1947. Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap kehidupan rohani dan pelayanan pastoral. Ia masuk seminari dan melanjutkan pendidikan teologi hingga akhirnya ditahbiskan sebagai imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974.

Setelah ditahbiskan sebagai imam, Mgr. Turang meniti karier imamatnya dengan berbagai tugas pelayanan, termasuk sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Dalam peran ini, ia menunjukkan kepeduliannya terhadap peningkatan taraf hidup umat Katolik melalui berbagai program ekonomi berbasis komunitas.

Pada 21 April 1997, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Kupang, mendampingi Uskup Agung saat itu, Mgr. Gregorius Manteiro, SVD. Selanjutnya, ia ditahbiskan sebagai Uskup Koajutor pada 27 Juli 1997 oleh Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja di Arena Pameran Fatululi, Kota Kupang. Setelah wafatnya Mgr. Gregorius Manteiro pada 10 Oktober 1997, Mgr. Petrus Turang resmi menggantikannya sebagai Uskup Agung Kupang.

Selama 27 tahun kepemimpinannya, Mgr. Turang dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas, berwibawa, namun tetap rendah hati dan penuh kasih. Ia banyak melakukan terobosan dalam pengembangan keuskupan, termasuk membangun paroki-paroki baru dan meningkatkan kualitas pelayanan pastoral.

Jenazah Mgr. Petrus Turang akan diterbangkan ke Kupang untuk disemayamkan dan dimakamkan di Katedral Kristus Raja, Kupang, tempat yang menjadi pusat pelayanannya selama bertahun-tahun. Semoga arwahnya mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.*/)llt

Center Align Buttons in Bootstrap