
LARANTUKA,SELATANINDONESIA.COM – Kabupaten Flores Timur yang kini dipimpin Penjabat Bupati Doris Alexander Rihi terus berupaya bekerja maksimal dengan seluruh elemen masyarakat untuk menekan angka stunting. Dibandingkan dengan sejumlah Kabupatan lain di NTT, Flotim berada pada zona kuning kasus stunting di NTT. Meski demikian, upaya cerdas terus dilakukan.
Sejak Agustus 2019 hingga Februari 2022 trend prevalensi stunting di NTT terus mengalami penurunan. Di periode Agustus 2020 – Agustus 2021 mengalami penurunan sebesar 3,1%. Sedangkan Februari 2021 – Februari 2022 mengalami penurunan sebesar 1,4%, yaitu prevalensi stunting menjadi 22%,” sebut Ketua Pokja Percepatan Penurunan Stunting, AKI dan AKB NTT, Sarah Lery Mboeik.
Hasil fasilitasi RKPD Tahun 2023, Kabupaten/Kota menyepakati target penurunan stunting rata-rata 10%. 2 Kabupaten menargetkan di bawah 10% yaitu Kabupaten Ngada 9,78% dan Manggarai Timur 7,5%. Bahkan ada yang menargetkan stunting 0% yaitu Kabupaten Sikka.
Lery Mboeik membeberkan, evalausi operasi timbang bulan Februari tahun 2022 diantaranya, dari 22 kabupaten kota masih ada 2 kabupaten dengan prosentase stunting diatas 30% yaitu Kabupaten Sumba Barat Daya dan TTU. “Terdapat 10 kabupaten dan kota dengan prosentase stunting 20-23% yaitu Kabupaten TTS, Rote Ndao, Kota Kupang, Sabu Raijua, Kabupaten Kupang, Sumba Barat, Lembata, Sumba Timur, Flores Timur dan Manggarai. Sedangkan 10 kabupaten dengan prosentase stunting dibawah 20% yaitu Kabupaten Malaka, Sikka, Manggarai Barat, Belu, Alor, Ende, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo dan Sumba Tengah,” ujarnya.
Selasa, (12/07/2022), Penjabat Bupati Flores Timur, Drs. Doris Alexander Rihi, M.Si, bersama Penjabat Ketua TP. PKK Kabupaten Flores Timur Ny. Stefani Sri Mutarti Rihi, S.Sos, menghadiri Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting yang dilaksanakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBPPPA) di Aula Setda Flores Timur.
Penjabat Bupati Flotim, Doris Rihi mengatakan, rakor itu dilaksanakan atas fakta bahwa data prevalensi stunting kabupaten Flores Timur pada bulan Februari 2022 yang masih menunjukan angka sebesar 20,4% atau sebanyak 3.636 balita stunting. Ia menyebut, posisi Flores Timur yang masih berada di lima besar kabupaten dengan angka stunting yang masih cukup besar.
Disebutkan, tentang target penurunan angka stunting sebesar 10% yang wajib diusahakan oleh setiap daerah di NTT sesuai komitmen bersama Bapak Gubernur Provinsi NTT bersama para Bupati/Walikota pada rapat koordinasi bulan Oktober 2021 dan dipertegas kembali melalui rapat kerja di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur beberapa waktu silam.
Menyadari fakta yang ada ini, Doris Rihi mengajak semua pihak yang terkait dalam usaha percerpatan penurunan stunting ini untuk mengevaluasi program-program yang telah dijalankan. “Dalam rapat ini juga kita mengevaluasi diri, apa yang telah kita lakukan, dan apa rencana aksi yang akan kita lakukan ke depan,” ungkapnya.
Doris Rihi menjelaskan bahwa peran pemerintah daerah sudah cukup maksimal di dalam usaha menurunkan angka stunting, termasuk di dalamnya dukungan kebijakan melalui Penegasan Bupati tentang pemanfaatan Dana Desa untuk mengurangi stunting. Juga penyediaan anggaran serta mengadakan rapat-rapat koordinasi bersama yang sudah dilaksanakan pemerintahan kabupaten sebelumnya sejak tahun 2021 bersama para camat.
“Puji syukur, kita tidak berada di dalam zona merah. Kita masih berada dalam zona kuning. Dan, kita masih cukup baik dalam penanganan stunting. Namun hal itu tidak boleh membuat kita bangga karena dari hasil evaluasi internal, hingga saat ini belum terjadi penurunan angka stunting secara siginfikan,” lanjutnya sembari menyoroti beberapa desa dan kecamatan yang memiliki angka stunting yang cukup tinggi.
Doris Rihi meminta semua pihak untuk serius menghadapi persoalan ini. “Saya minta semua kita serius mengevaluasi diri. Kalau ada data yang disajikan oleh Pak Sekda atau penaggungjawab tingkat kabupaten ini, tolong dinikmati sebagai data. Jika ada yang harus dikoreksi, bisa dikomunikasikan secara baik, tidak usah diributkan karena ini adalah tanggung jawab semua kita,” sebut Doris.
Ia juga melihat usaha penurunan angka stunting ini sebagai sebuah tanggung jawab setiap kita untuk menghasilkan generasi muda Flores Timur yang unggul kelak. “Selaku Penjabat Bupati, saya meminta dan menegaskan kepada semua kita, untuk kita wujudkan tindakan nyata itu dalam tugas dan tanggung jawab kita sesuai fungsi kita masing-masing baik tingkat desa atau kelurahan, kecamatan dan kabupaten,” tegasnya.
Penjabat Bupati juga meminta keterlibatan semua instansi dalam mendukung gerakan ini sesuai dengan bidang kerjanya melalui kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung maupun tidak langsung kepada penurunan angka stunting di Flores Timur. “Mudah-mudahan, di akhir tahun ini kita sudah bisa bergerak dari 20 ke 15%. Itu sudah sangat luar biasa,” harap Doris Rihi.
Doris Rihi mendorong agar rakor ini dapat menghasilkan rekomendasi tertulis tentang rencana-rencana aksi yang terukur dan dapat dievaluasi pada kesempatan mendatang sembari berharap ada kerjasama yang dibangun dengan Dandim 1624 Flores Timur sebagai Bapak Asuh Anak Stunting.
Turut hadir saat itu, Dandim 1624 Flores Timur Letkol Inf Tunggul Jati selaku Bapak Asuh Anak Stunting di Flores Timur bersama Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXII Kodim 1624, Ny. Fika Tungul Jati. Ada juga Sekretaris Daerah Kabupaten Flores Timur Paulus Igo Geroda, S.Sos, M.A.P, bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Flores Timur, Ny. Rina Nugrohowati Geroda, menghadiri dan membuka kegiatan. */)ProkopimFlotim
Editor: Laurens Leba Tukan