
ROTENDAO,SELATANINDONESIA.COM – Orang Rote sangat terkenal di daratan Timor bahwa setiap ada orang Rote yang menetap di salah satu wilayah, pasti ada sawah di sekitranya. Itu pasalnya, orang Timor belajar kerja sawah dari orang Rote.
Itu ciri khas. Karena itu orang Rote punya kemampuan untuk membuat lahan- lahan baru dan itu prestasi yang tidak perlu diajarkan. Jadi kalau di Rote jika ada tanah yang nganggur, berarti itu bukan orang Rote. Karena ciri khas orang Rote, dia mampu membawa pertumbuhan baru di mana-mana,” sebut Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ketika berbicara dalam acara pengresmian Kecamatan Luaholu, Kabupaten Rote Ndao, Selasa (20/10/2020).
Gubernur Laiskodat mengharapkan, semangat menumbuhkan pembangunan baru itu adalah semangat yang tumbuh secara alami dan berbudaya. “Kalau ke Timor dan Semau lalu cek, kalau kerja sawah dulunya siapa yang ajar, pasti jawabanya Orang Rote. Di daratan Timor, di TTS dan TTU kalau kiri kanan jalan ada sawah coba tanya dari mana, apakah orang Timor atau orang mana, itu pasti jawabannya orang Rote dan itu ciri khas. Sehingga dengan pemekaran kecamatan baru ini ada pertumbuhan baru di temat ini,” ujar Gubernur Laiskodat.
Ia mengharapkan di wilayah kecamatan baru itu bakal tumbuh tanaman produktif seperti jagung, kelor, dan juga kemiri sunan yang manfaatnya besar namun mampu bertumbuh di daerah kritis. “Kemiri Sunana, sebagai Gubernur saya akan siapkan kedepan dalam jumlah banyak sehingga kita buatkan aturan bahwa seluruh kapal-kapal yang masuk di NTT agar selalu menggunakan solar dari kemiri sunan,” katanya.
Disebutkan Gubernur, tanaman kemiri sunan memang belum terlalu dikenal luas oleh masyarakat NTT. “Tetapi sudah dirodong dan dimulai oleh bapak Ibarahim Agustinus Medah sejak lama dan saya mulai belajar kemiri sunan,” katanya.
Gubernur Laiskodat juga menyanggupi permintaan sumur bor dari Bupati Paulian Haning Bulu. “Sumur bor pasti ada, jadi kita saling membantu dalam kekurangan kita,” sebutnya.
Gubernur Laiskodat mengaku gembira ada di Rote Ndao dan terus mendorong bersama Ibu Bupati untuk membangun kabupaten Rote Ndao dengan baik. “Infarastruktur jalan kita akan mendesain menajadi jalan startegis nasional karena menuju tempat-tempat pariwsata. Tolog didesain agar saya bicarakan dengan Pak Menteri PUPR dan saya yakin sangat bisa. Nanti yang masih kurang-kurang, saya akan bantu di tahun 2026. Kita terus mendorong Rote yang sangat indah dengan tata krama dan peradaban yang tinggi menjadi lebih maju,” jelas Gubernur.
Gubernur Laiskodat pada kesempatan itu menyampaikan rasa kagumnya terhadap kejujuran orang Rote. “Beberapa kali saya alami sendiri, orang Rote membuat saya bangga. Kemarin sahabat saya HP dan jam tangannya jatuh di pantai Bo’a. Sampai di kamar tidak ada, kembali ke pantai tidak ada cari keliling, jalan bolak-balik, lalu ada dua pemuda tanya, cari apa ibu, saya punya jam dan HP jatuh, ini kami dapat dan kami kembalikan. Ini luar biasa, dan tidak gampang. Mungkin buat orang lain hal biasa, tetapi bagi saya ini luar biasa. Ini nilai menurut saya akan mendukung pariwisata di Rote Ndao ini menjadi hebat,” ujar Gubernur.
Ia meminta para kepala desa, camat, tokoh masyarakat dan tokoh agama agar terus mendorong agar nilai kejujuran ini jangan hilang. “Saya jujur ini sudah beberapa kali, dulu saya ikut gereja di Nembarala juga diumumkan dalam gereja bahwa ditemukan satu jam tangan di pantai, ini nilai yang membanggakan kita. Sebagai orang NTT saya senang sekali, saya gembira betul. Bagi saya sebagai orang yang berkunjung ke seluruh dunia, barag kalua jatuh seperti HP da jam tangan jangan harap untuk dikembalikan. Ini nilai budaya orang Rote dan kebanggan orang Rote yang tidak mau curi barang orang lain,” katanya.
Kesempatan sebelumnya, Bupati Rote Ndao, Paulina Haning Bulu sebelumnya mengatakan, lahan di Rote Ndao untuk menyukseskan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) sudah tersedia 700 Ha. “Kami sudah siap tanam, namun kami harapkan bibit cepat waktu apalagi sudah masuk hujan karena 700 Ha sangat luas bagi kami. Kami juga membutuhkan traktor, mesin air dan excavator serta sumur bor,” sebut Bupati Paulina.
Sedangkan untuk menunjang pariwisata di Rote Ndao, infratsruktur jalan di wilayah Rote Timur menuju daerah wisata masih tersisa 11 Km yang harus dibangun. “Ke Laut Mati masih ada 23 Km yang harus kami bangun dan menuju Oeseli ada 11 Km menuju Telaga Nirwana dan Kembali ke Bo’a. Kami jujur bahwa kami tidak punya kemamuan untuk segera membangun infrastruktur jalan tersebut menuju tempat wisata,” ujarnya.
Gubernur Laiskodat dalamkunjungan itu didampingi oleh staf khusus Imanuel Blegur, dan Pius Rengka. Juga turut hadir sejumlah pimpinan OPD tingkat Provinsi NTT diantaranya, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Benyamin Lola, Karo Humas dan Protokol Marius Ardu Jelamu, Karo Ekonomi dan Kerja Sama Lery Rupidara, Karo Hukum Alelx Lumba, dan Karo Pemerintahan Doris Rihi ***Laurens Leba Tukan