Surat Terbuka untuk Gubernur NTT di Tengah Covid-19

18614
Dominirsep Dodo

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Seorang warga Nusa Tenggara Timur mengirimkan surat terbuka kepada Gubernur NTT Viktor Bungtilu Liskodat ditengah pandemic Covid-19. Surat terbuka itu beredar luas di jagad maya. Pada Selasa, (14/4/2020) malam, SelatanIndonesia.com menelusuari dan berkomunikasi langsung dengan penulis. Dia adalah Dominirsep Dodo, yang kesehariannya bekerja pada Departemen Administrasi & Kebijakan Kesehatan, FKM Undana Kupang.

Berikut isi suratnya, selamat malam Bapa sayang. Apa kabar? Semoga Bapa baik-baik saja dan tetap sehat selalu memimpin NTT yang tercinta bangkit menuju sejahtera. Jadi, begini Bapa Gubernur. Saya langsung saja. Pendekatan yang kita lakukan saat ini untuk pendatang dari red zone adalah pendekatan campuran antara “karantina khusus 14 hari sesudah itu dilepas” dan karantina mandiri di rumah selama 14 hari.

Apakah ini cukup memadai untuk mengendalikan  proses penularan Covid-19? Jawabannya “tidak” untuk NTT. Mengapa? Karena pasca karantina ini, hampir semua pergi tanpa ada “kejelasan status” apakah positif/negatif Covid-19 (meski semua tanpa gejala). Idealnya, karantina dilakukan 14 hari sambil cepat memastikan statusnya melalui PCR.  Dengan adanya data yang lengkap hasil PCR untuk semua pendatang, maka kita bisa buat peta penularan dan pengendalian-nya per kelurahan/wilayah.

Cuma kendalanya laboratorium kita di NTT tidak mampu. Akhirnya kita terperangkap dalam kecurigaan dan ketidakpastian yang relatif lama. Publikasi terakhir yang saya baca baru 27 sampel yang terkonfirmasi sampai hari kemarin. Sisanya, belum. Artinya kita terus terlambat. Kirim hari ini, mungkin seminggu lagi baru tau statusnya. Terlambat mengetahui status itu sama dengan membuka ruang terjadinya penularan karena mungkin saja ada kelonggaran dalam pengawasan atau keteledoran sendiri (belajar dari Kasus El Asamau).

Apa artinya kalau model karantina yang sekarang diteruskan? Itu berarti ruginya double! Secara kesehatan, sudah pasti rugi. Apalagi secara sosial ekonomi baik di level pribadi maupun secara agregat! Bagaimana detailnya kerugian itu? Mari kita diskusikan!

Apa yang menjadi keprihatinan saya saat ini? Meski sudah hampir 1,5 bulan sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya Covid-19 di Indonesia, namun belum ada kemajuan berarti (signifikan) untuk memastikan kecepatan penegakkan diagnosa positif Covid-19 di daerah.

Pemerintah daerah khususnya Provinsi NTT tidak punya laboratorium yang memadai untuk PCR. Yang canggih cuma ada di Pulau Jawa. Akhirnya hampir sebagian besar beramai-ramai kirim sampel ke Surabaya dan atau Jakarta. Apa yang terjadi di sana? OVERLOAD! Laboratorium mereka pasti “on” terus siang dan malam. Untuk 1 sampel saja mungkin dilakukan pemeriksaan minimal sebanyak 4 kali. Dua kali di periode pertama untuk memastikan apakah pasien positif atau tidak. Dua kali di periode kedua dan periode ketiga serta seterusnya untuk memastikan sudah sembuh atau tidak (negatif). Sudah bayangkan atau belum kerumitannya?

Pertanyaannya, sampai kapan kita mengandalkan laboratorium di Jawa, Bapa Gubernur? Semoga Bapa Gubernurku Viktor Laiskodat punya jalan keluar ditengah masa krisis dan delay status konfirmasi PCR untuk diagnosa COVID-19 ini. Semoga Bapa Gubernurku diberi kekuatan untuk tetap bijak dalam mengambil keputusan agar NTT tidak lagi terus dikenal sebagai Nusa Tetap Tertinggal yang terus menunggu Nanti Tuhan Tolong.

Jika dulu Bapa berencana buat kapal terapung untuk pelayanan kesehatan, konsumsi kelor untuk atasi stunting, beli satelit untuk pantau orang di wilayah NTT, maka sudah saatnya Bapa Gubernur juga berinvestasi untuk membuat Laborotarium kita di NTT ini memadai untuk layanan pendukung diagnosa Covid-19. Selamat Malam Bapa Gubernur. Tuhan Yesus memberkati.***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap