Oleh:  Maria Senorita Olinan Lebangu
Mahasiswa Semeseter 1 Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unwira Kupang
Stasi mawa Merupakan bagian dari Paroki Tokojaeng, Dekenat Lembata, Keuskupan Larantuka. Permulaannya diprakarsai oleh P. Petrus Maria Geurts, SVD dengan membuat fundasi gereja, dilanjutkan umat dan berdirinya sebuah kapela.
Stasi Mawa dulunya bernama Lingkungan mawa yang masih bergabung dengan Stasi Atawatung, dengan Ketua Lingkungannya Mikael Ola Wahon.
Berdirinya stasi mawa dimulai dengan datangnya Pater Dekan Lembata saat itu P. Eugene Smits, SVD duduk bersama dalam gereja dan membuat keputusan hari minggu 1 dalam bulan umat Lingkungan mawa ibadat/ misa di Atawatung dan minggu ke 2 sampai 4 misa atau ibadat di Kapela Mawa dan pada saat itu belum dibangun gereja dan masih memakai balai desa Napasabok.
Tahun 2001, Rm. Domi Luro Mengumumkan untuk membuat rumah pastoran agar SK cepat datang. Pada tahun 2006, Romo Blas Keban, Pr merayakan natal di Mawa. Pada saat pengumuman diantaranya Lingkungan Mawa menjadi sebuah stasi dengan SK Uskup Larantuka tanggal 23 Desember 2006, dengan dewan stasi pertama Mikhael Ola Wahon dan menjadi stasi Mater Dolorosa Mawa.
Bukti bahwa umat stasi mawa bisa berdikari dalam tugas kerohanian, maka pembagiaan tugas dari kamis putih, hingga senin paska 2, stasi mawa juga mendapat tugas (perayaan paskah 2007)
Setelah dewan stasi pertama, kemudian di gantikan oleh Antonius Ola Hurek, lalu Yohanes Bulet Balawala Dan sampai sekarang dewan stasinya Gregorius Hogim.
Stasi Mawa merupakan sebuah stasi yang dibilang kecil karena memiliki julah umat yang kecil. Stasi ini memiliki 3 lingkungan / basis dengan 6 KBG di dalamnya dan saat ini masih dalam tahapan perbaikan bangunan gereja (*)












Komentar