Bupati Paulus Limu dan Wakilnya, Umbu Djoka, memimpin gerakan gotong royong melawan stunting. Dana, pangan, dan cinta dikumpulkan untuk balita 2T dan underweight. Seluruh pejabat di Sumba Tengah menjadi โOrang Tua Asuhโ bagi balita yang kekurangan gizi.
ย WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM – Langit mendung menaungi Waibakul pagi itu, Selasa (17/6/2025). Namun suasana di aula Sekretariat Daerah Kabupaten Sumba Tengah tak surut oleh cuaca. Di sana, Bupati Sumba Tengah, Drs. Paulus S. K. Limu, memimpin langsung rapat koordinasi Aksi Bela Rasa. Sebuah inisiatif kemanusiaan yang menghimpun solidaritas dari jajaran pemerintah hingga akar desa, demi satu tujuan, menyelamatkan generasi masa depan dari stunting dan kekurangan gizi.
โIni bukan soal anggaran semata. Ini soal empati dan tanggung jawab kita sebagai orang tuaโOrang Tua Asuh,โ ujar Paulus Limu, membuka rapat dengan suara berat, didampingi Wakil Bupati M. Umbu Djoka, S.Hut., M.Si.
Rapat dihadiri oleh Sekretaris Daerah, para Staf Ahli Bupati, Pimpinan OPD, Plt. Direktur RSUD Waibakul, serta seluruh Kepala Puskesmas. Agenda utamanya bukan sekadar berbagi wilayah kerja, tetapi membagi beban kemanusiaan. Sebanyak 65 desa menjadi medan tempur dari program gotong royong ini, tempat di mana para pejabat daerah turun menjadi โOrang Tua Asuhโ bagi balita 2Tโberat dan tinggi badan di bawah standarโdan anak-anak underweight.
Dana dan Cinta
Pemkab telah menganggarkan dana sebesar Rp1,2 miliar untuk program ini. Namun, hingga pertengahan Juni, baru Rp300 juta yang berhasil dikumpulkan. Paulus Limu tak mau bergantung semata pada APBD. Ia mengetuk hati para aparatur dan masyarakat luas untuk ikut menyumbangโtidak harus uang, bisa juga berupa beras, telur, daging, ikan, atau kacang-kacangan.
โYang penting bukan besar kecilnya bantuan, tapi kehadiran dan perhatian. Anak-anak ini tidak butuh iba, mereka butuh kita,โ ucapnya, seraya mengajak semua pihak menjadi bagian dari solusi.
Wakil Bupati Umbu Djoka menambahkan bahwa aksi ini bukan proyek seremonial, melainkan kerja sistematis dan jangka panjang. Pendampingan, evaluasi, serta pemantauan akan dilakukan secara berkala, dengan Puskesmas sebagai ujung tombak data dan intervensi.
Melawan Angka yang Membisu
Data Dinas Kesehatan terbaru menunjukkan ada 1.008 anak di Sumba Tengah yang masuk kategori stunting. Angka itu diperkirakan lebih tinggi karena banyak data lapangan yang belum terinput secara lengkap. Mayoritas kasus terjadi pada kelompok bayi dan balita yang menderita gizi buruk kronis akibat kemiskinan, keterbatasan akses pangan bergizi, serta minimnya edukasi kesehatan keluarga.
Bupati Paulus memerintahkan Puskesmas segera mengumpulkan data akurat, memperkuat manajemen penanganan gizi, dan menjadwalkan distribusi bantuan dengan sistem yang transparan. โIni harus cepat. Jangan biarkan anak-anak menunggu,โ tegasnya.
Dana Desa Tak Boleh Diam
Instruksi lain datang dari arah kebijakan fiskal lokal. Bupati Paulus Limu meminta 5 persen dari Dana Desa Tahap I di setiap desa dialokasikan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak stunting dan kurang gizi. โJangan biarkan dana desa mengendap. Gunakan untuk mempercepat penyembuhan anak-anak kita,โ katanya.
Sinergi lintas sektor, termasuk koordinasi antara Kepala Desa dan Puskesmas, menjadi kunci keberhasilan. Pemerintah berharap dalam waktu enam bulan, angka stunting mulai menurun dan anak-anak dapat tumbuh sesuai usianya.
Ketika Jabatan Menjadi Peran Asuh
Program ini memang tak menjanjikan hasil instan. Namun, dengan pendekatan gotong royong berbasis nilai, bukan sekadar angka, Sumba Tengah tengah menulis satu babak penting dari perlawanan senyap terhadap krisis gizi.
โMenjadi Bupati bukan hanya soal memimpin, tapi juga memberi teladan untuk peduli. Ini soal nyawa, soal masa depan,โ ujar Paulus Limu, sebelum meninggalkan ruang rapat dan bergegas menuju desa pertama yang akan ia dampingi.*/ProkopimSTeng/Laurens Leba Tukan













Komentar