Mau Model Mana: Koalisi Atau Aliansi?

232
Pius Rengka

Oleh Pius Rengka

Rakyat Kota Kupang, tinggal di Jl. Antarnusa, Liliba

Nama para calon Walikota Kupang Alex Funay, Jonas Salean, Robert Fanggidae, Herman Man, George Hadjoh, Issak Nuka, Chris Widodo, Emy Nomleni, dan Jefri Riwu Kore, telah beredar luas. Siapakah di antaranya yang paling mungkin lolos seleksi partai politik?

Tulisan sederhana ini berusaha meramalkan jawaban atas pertanyaan itu dengan kacamata studi fenomena empirik. Alex Funay, Jonas Salean, Herman Man, Chris Widodo dan Emmy Nomleni adalah para calon dari partai politik. Artinya, mereka selama ini sudah aktif di partai politik masing-masing.

Sedangkan Robert Fanggidae, George Hadjoh, Issak Nuka, dan Jefri Riwu Kore bukan anggota partai politik. Mereka adalah profesional, pegawai negeri aktif dan pensiunan ASN. Meski, Jefri Riwu Kore pernah memimpin Partai Demokrat, tetapi dia terpental setelah kalah tarung perebutan Ketua versus Leonardus Lelo.

Robert Fanggidae, profesional perbankan di NTT. Ia alumnus FE UGM, cerdas cemerlang dan bersih.  George Hadjoh, birokrat cerdas profesional. Ia tegas, disiplin dan bersih. Ia masih aktif sebagai ASN. Issak Nuka, cerdas, bersih, profesional. Ia pensiunan Eselon II Kantor Gubernur NTT yang memiliki reputasi terandalkan. Jefri Riwu Kore, mantan anggota DPR RI dua periode, mantan Walikota Kupang. Ia membangun taman dan menghijaukan beberapa kawasan di kota ini.

Sembilan calon ini berharap diusung partai politik. Itulah alasan mengapa mereka mendaftar di partai politik. Tidak satu pun dari 9 calon itu yang mencalonkan diri  melalui jalur independen.

Memang sebelumnya, Jefri Riwu Kore, marak dikabarkan sebagai calon independen terkuat. Kabar amat sangat baik ini meluas disiarteruskan para suporter di media massa terakses, menggelembung bagai balon udara siap meletus menyusul 100.000 KTP dukungan terkumpul. Gelombang massa pendukung meluap dikipas semangat suka rela dan rela suka-suka menyerahkan KTP. Belakangan kabar ini meredup, senyap dan diam tanpa kisah penjelasan rinci. Para suporter pun senyap merayap.

Konsideransi politik:

Beberapa konsideransi tradisional politik berikut patut diperhitungkan serius, jika kita mencermati pola hubungan politik para aktor dan institusi pendukungnya.

Pertama, semua kandidat pasti melakukan koalisi atau aliansi. Syarat minimal pencalonan 20 persen, setara 7 kursi DPRD Kota Kupang. Jika dipakai pola penggabungan koalisi, maka partai inti tidak ada. Karena semua partai yang koalisi berpangkat sama dan setara. Tak peduli berapa jumlah kursi. Jika memilih pola penggabungan aliansi, maka ada partai pusat gravitasi. Partai pusat gravitasi menjadi mesin penggerak utama, dinamo -penggerak utama, sedangkan lainnya sekadar penggenap aksi politik.  Rupanya, pola aliansi ini dipakai Jonas Salean karena tampak ketika Golkar telah mematok pasti Jonas Salean berpasangan dengan Alo Sukardan. Sehingga parta politik penggabung Golkar tidak boleh bahkan tidak dapat mengajukan calon wakil walikota. Golkar menempatkan diri sebagai pusat gravitasi. Partai penggabung yang bergabung dengan Golkar berfungsi sebagai pelengkap normatif periferal. Ada dua tantangan di sini. Pertama, partai penggabung bersedia menjadi subordinasi dari partai pusat gravitasi atau; Kedua, partai yang bergabung dibayar cukup untuk memenuhi syarat jumlah kuota kursi yang diperlukan, sehingga ia rela siap menjadi subordinasi dari partai pusat gravitasi. Dari aspek ini, maka dapatlah diduga, kalau Jonas Salean dan Alo Sukardan telah menyiapkan banyak amunisi sosial politik dan ekonomi, sehingga pasangan ini dipastikan lolos butuh pencalonan.

Kedua, konfigurasi partai politik di Kota Kupang tidak memungkinkan pencalonan berbasis kedekatan ideologi partai. Makanya Golkar yang telah pasti mencalonkan Jonas Salean beraliansi dengan partai berideologi kanan tengah atau sangat kanan sejauh tidak menawarkan calon wakilnya sendiri. Emmy Nomleni yang diusung PDIP pun pasti berkoalisi dengan partai berideologi tengah atau kanan tengah. Partai kanan tengah menawarkan kandidatnya sebagai wakilnya. Demikian pun Alex Funay yang diusung Perindo, Herman Man didukung PAN atau  Christ Widodo diusung PSI. Karenanya, meski kelima calon adalah orang dalam partai politik sendiri, tetapi tidak ada jaminan pasti kalau pencalonannya berlangsung mulus. Sebagai pengecualian hanyalah Jonas Salean dengan Alo Sukardan, sembari teriring doa harapan, semoga tak ada peristiwa penting lain yang membatalkan pencalonan pasangan ini.

Ketiga, pilihan model penggabungan partai koalisi atau aliansi menghadapi halangan serupa sama dan sebangun. Para calon harus rela menafikan seruan ideologi partai mereka, tetapi mereka harus rela berkubang di lumpur busuk penimbang isi tas. Mengapa? Isi tas kini niscaya menjadi isu tengah karena isi tas diperlukan demi pelancaran urusan lolos calon. Hingga kini masih banyak partai politik yang belum sembuh dari krisis busung lapar atau bahkan sedang ditimpa wabah penyakit loba. Demi meraih dukungan 7 kursi DPRD, para calon harus menggelontorkan dana pendaftaran, dan seterusnya. Informasi yang diperoleh menyebutkan, pendaftaran di partai-partai variatif antara Rp. 15 – 50 juta di luar uang survei elektorasi.

Keempat, koalisi atau aliansi dengan partai apa? Partai Gerindra, NasDem, PKB, Demokrat, dan Hanura, hingga kini belum mengajukan calon sendiri. Diperoleh kabar, mereka mengusung calon Wakil Walikota. Karenanya, Anton Ali (PKB), Yuvens Tukung (NasDem), Isodorus Lilijawa (Gerindra) muncul di teras perbincangan politik di Kota Kupang. Mereka bercatur di papan politik suboptimal (konon) karena kandidat Walikota yang mumpuni belum tersedia. Fakta itulah yang mengundang sejumlah nama besar seperti Robert Fanggidae diduga diduetkan dengan Yuvens Tukung (NasDem) berkoalisi dengan Demokrat. Atau George Hadjoh berduet dengan Anton Ali (PKB), sehingga pasangan ini kemungkinan didukung NasDem dan PKB.  Atau Jefri Riwu Kore berduet dengan Isodorus Lilijawa (Gerindra), berkoalisi dengan Hanura. Atau Issak Nuka berduet dengan Alex Funay (Perindro) yang bergabung dengan Demokrat. Sedangkan dr. Herman Man (PAN) berpeluang berduet dengan pasangan calon yang diajukan Hanura. Jika Hanura condong ke dr. Herman Man, maka Jefri Lilijawa merapat ke partai kecil lain demi mengoleksi syarat kuota pencalonannya. Atau dr. Chris Widodo diduetkan dengan Alex Funay sehingga yang terpental adalah Issak Nuka. Tetapi jika Alex Funay dan Issak Nuka tetap bertahan, maka yang terpental adalah dr. Chris Widodo. Itu berarti PSI menggantung, kecuali jika Chris Widodo dengan kerelaan sangat sopan mau berpasangan dengan Jefri Riwu Kore.

Sementara itu, para kandidat non partai politik harus sanggup menawarkan gagasan-gagasan cemerlang sesuai dengan ideologi partai politik yang dilamarnya. Tetapi, mereka tidak boleh masuk dalam pasar gelap tawar-menawar harga jual beli jumlah kursi. Utamakan gagasan dan integritas pribadi. Karena intelektualitas dan integritas dibutuhkan oleh Kota Kupang setelah mencermati kompleksitas persoalan di kota ini.

Saya menduga, dari empat calon non partai akan ada dua yang rontok di tengah jalan karena hadangan palang pintu partai politik dan masalah keuangan yang terbatas. Dengan demikian pasangan paling pasti untuk pencalonan Walikota dan Wakil Walikota hingga kini barulah Jonas Salean dan Alo Sukardan dengan sedikit catatan jika tak ada aral pelintang lintasan perjalanan mereka. Lainnya masih kabur.

Pilihan rasional:

Empat kandidat mesti mempertimbangkan serius.  George Hadjoh misalnya, harus serius menimbang posisi aktual yang kini dipangkunya. Meski ia seorang profesional sejati, tetapi George patut berhitung untuk judi politik yang kabur kepastian.  Karenanya, saya menduga, jika kekaburan itu kian menyaput pencalonannya hingga Juli 2024, saya menduga George akan lebih rasional untuk memilih tidak melanjutkan pencalonan, meski banyak pemilih mengharapkan dia maju.

Sedangkan dr. Chris Widodo, meski peluangnya untuk diduetkan dengan siapa pun di kota ini, tetapi dia pun tak bebas dari jebakan pesona politik elektoral, sementara dia sendiri diharuskan mundur karena perintah aturan KPU.  Bagi dr. Chris, konsideransi politik antara tetap di DPRD Provinsi atau mengambil peluag jabatan Walikota Kupang, tentulah bukan pilihan gampang karena  peluang kemenangannya masih kabur. Jika berkenan bersaran, sambil menimbang usia relatif masih muda, mungkin bagus jika peluang menjadi Walikota patut ditunda. Atau jika brani mengambil risiko yang mungkin, maka bagus jika berkoalisi dengan Gerindra sebagaimana payung koalisi Jakarta.

Maka calon non partai tersisa Robert Fanggidae, Isaak Nuka dan Jefri Riwu Kore. Dari aspek kualitas intelektual, dan integritas, ketiga tokoh ini mumpuni. Terandalkan. Jika toh mau ditimbang sungguhan, Robert Fanggidae terbukti berhasil gemilang memimpin institusi keuangan di tengah terpaan badai covid 19 dan krisis ekonomi di Indonesia dan global. Bank TLM yang dipimpinnya eksis dan kian berkibar di seantero Nusa Tenggara Timur. Artinya, reputasinya terandalkan, manajemen birokrasi governance di bidangnya reputatif justru karena kualitas charakter dan intelektualitasnya yang mendukung. Saya memang tak ragu, karena latar belakang pendidikannya di Fakultas Ekonomi UGM, tempat dari mana dan di mana banyak pemimpin bangsa dibina. Kini tantangannya di partai politik. Apakah masih ada partai politik pencari tallent scouting berkaliber besar?

Hal persis sama dengan Issak Nuka. Insinyur sipil jebolan teknik Unwira ini, tak memiliki sedikit pun catatan buruk dalam sejarah dia merajut kepemimpinan di birokrasi NTT. Bahkan, saya tahu persis kedekatannya dengan sejumlah Gubernur lantaran kualitas prestasi dan reputasinya. Tamparan covid 19 dan terjangan Seroja 5 April 2020 silam, dinas perhubungan yang dipimpinnya sangat lentur berhasil gemilang mengatasi prolem pelik angkutan laut itu tanpa cacat. Koordinasi dengan institusi militer dan lembaga lain lintas sektor lancar mengatasi kebencanaan. Dia sangat piawai. Sukses. Jadi, partai politik silakan menimbang tokoh ini dengan baik, jika partai masih memiliki impian menemukan orang-orang baik.

Sesungguhnya Jefri Riwu Kore, menancapkan pesan di Kota Kupang dengan beberapa catatan mengesankan. Seperti biasa tokoh di panggung nomor satu, tak pernah luput dari rintik kritik dan sejenis halusinasi jabatan. Jefri memiliki cukup keunggulan tak terbantahkan. Dia mendokumentasikan beberapa prestasi di Kota Kupang, yang kasat mata. Meski dia dihajar tudingan gelap menilep dana bantuan Seroja, tetapi toh Jefri tetap melenggang bebas. Artinya, tudingan buruk itu semata-mata adalah sejenis penyebar kebencian, hartzai artikelen. Jefri tercatat sebagai salah satu pemimpin kota yang berkesan. Tinggal kini partai politik mana yang masih longgar ruang kelas untuk memasukkannya dalam deretan calon walikota.

Jika tiga tokoh ini diakomodasi oleh partai politik, maka postur dan konfigurasi pencalonan Walikota Kupang akan sungguh berwarna. Tampaklah jelas, peluang 6 calon walikota akan terbuka, dengan kemungkinan gugur di tengah jalan dua pasangan. Maka yang tersisa adalah empat pasangan dengan konfigurasi pola konvensional yaitu, Rote, Sabu, Timor, Flores. Saya kira pas.(***)

Center Align Buttons in Bootstrap