BPD DIY Juga Pernah Belajar CMS dan Mobile Banking di Bank NTT

58
Perwakilan Bank DIY pose bersama Pimpinan Bank NTT ketika melakukan studi banding tentang bank devisa di Bank NTT, Kamis (25/4/2024). Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Rupanya beragam inovasi yang ditorehkan Bank NTT dalam memberikan pelayanan prima kepada nasabah menjadi contoh dan pembelajaran bagi Bank Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Selain belajar tentanag Bank Devisa, Bank DIY sebelumnya sudah dua kali melakukan studi banding atau belajar tentang perizinan mobile banking, dan soal CMS atau Content Management System.

Pj. Pemimpin Divisi Perencanaan dan Pengembangan Bank DIY Mahatmanto Budiatmoko Subono mengatakan itu ketika membawa  tim dari Bank DIY untuk melakukan studi banding tentang  Bank Devisa di Bank NTT, Kamis (25/4/2024).

“Sudah tiga kali kami belajar dan berguru di Bank NTT. Yang pertama kami belajar belajar secara informal tentang perizinan mobile banking, dan kedua soal CMS atau Content Management System. Ketiga, hari ini soal Bank Devisa. Kami harap studi banding kami yang ketiga ini mendapatkan banyak Insight dari Bapak Ibu sekalian di bank NTT,” sebut  Mahatmanto Budiatmoko Subono.

Bank DIY melakukan studi banding soal proses perijinan Bank Devisa di Bank NTT. Banyak hal dan tahapan-tahapan serta elemen yang dipersiapkan dengan matang sehingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) bisa mengeluarkan ijin Bank NTT sebagai bank devisa.

“Kami bangga karena meskipun kami berada pada daerah pinggiran di Indonesia tetap Bank DIY mau jadikan Bank NTT sebagai tempat belajar,” sebut Direktur Teknologi Informasi dan Operasional Bank NTT Hilarius Minggu. Hadir menyambut kedatangan para penjabat pimpinan Divisi Perencanaan dan Pengembangan serta sejumlah staf Bank DIY ini, disambut juga oleh Direktur Kepatuhan Bank NTT Christofel Adoe, serta sejumlah Kepala Divisi dan staf Bank NTT.

Hilarius Minggu mengatakan, proses menuju Bank Devisa cukup rumit dan cukup panjang. Tapi dengan dukungan penuh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), akhirnya Bank NTT bisa menjadi Bank Devisa.

“Proses perijinan Bank Devisa cukup panjang, dan puji Tuhan hubungan kita dengan OJK dan BI baik, sehingga prosesnya tidak terlalu rumit atau tidak ada kendala,” ujar Hilarius Minggu.

Ia menjelaskan, NTT memiliki potensi yang sangat kaya di sektor pariwisata, sehingga potensi Bank Devisa sangat besar. Meski demikian, Hilarius menerangkan bahwa hingga saat ini, manfaat atau benefit dari Bank Devisa belum sepenuhnya terasa.

Artinya Bank Devisa adalah investasi jangka panjang bagi Bank NTT untuk bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. “Kalau dilihat dari benefit yang kita dapatkan saat ini, belum ada artinya dengan cost yang sudah kita keluarkan. Mungkin jauh ke depan, karena NTT ini provinsi yang bergerak di bidang pariwisata. Mudah-mudahan ke depan bisa menutup, minimal break event untuk beberapa tahun ke depan,” jelas Hilarius.

Selain pariwisata, NTT juga merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, dan NTT juga memiliki banyak Pekerja Migran Indonesia atau PMI yang ada di luar negeri. Hal ini diyakini akan mendongkrak transaksi remittance di Bank NTT.

Direktur Kepatuhan Bank NTT Christofel Adoe menyampaikan, Bank NTT juga membutuhkan masukan-masukan dari Bank DIY agar kedua bank bisa berkembang bersama-sama ke depan. Selain meminta masukan, Direktur Kepatuhan Bank NTT juga memberikan sejumlah tips untuk Bank DIY dalam hal proses menjadi Bank Devisa.***Laurens Leba Tukan

 

Center Align Buttons in Bootstrap