Tahun Ini Bupati Paulus Targetkan Stunting di Sumba Tengah Turun Hingga 6 Persen

191
Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu (keempat dari kanan) ketika berbicara dalam pertemuan penanggulangan stunting dan kemiskinan ekstrem bersama Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Rabu (25/1/2023) melalui aplikasi zoom dari Kantor Bupati Sumba Tengah. Foto: PKP-Sum-Teng

WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM – Satu-satunya Kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan prosentase angka kasusu stunting pada satu digit, 8 persen adalah Kabupaten Sumba Tengah. Kini, Kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Paulus S. K. Limu dan Wakilnya Daniel Landa menargetkan, angka stunting di Sumba Tengah turun lagi menjadi 6 persen.

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah bersama seluruh elemen masyaraat untuk terus bekerja menurunkan angka stunting. “Target bapak Presiden di tahun 2023 ini adalah 14% namun kami di Sumba Tengah sudah melampaui sampai tinggal satu digit. Bahkan target kami pada tahun 2023 ini, dari jumlah kasus stunting 8,7 persen turun lagi menjadi 6 persen,” sebut Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu ketika berbicara dalam pertemuan penanggulangan stunting  dan kemiskinan ekstrem bersama Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Rabu (25/1/2023) melalui aplikasi zoom dari Kantor Bupati Sumba Tengah.

Dijelaskan Bupati Paulus, adapun upaya yang ditempuh untuk penurunan angka stunting dari 8,7 persen menjadi 6 persen di tahun 2023, pihaknya menjadikan stunting sebagai isu sentral. “Hampir di setiap kesempatan baik di tingkat Kabupaten, Kecamatan, bahkan sampai tingkat Dusun dan RT, isu stunting ini merupakan isu utama. Bahkan setiaphari Jumat, kami rapat stunting baik di tingkat Kabupaten, Kecamatan sampai pada tingkat Desa,” sebutnya.

Bupati Paulus mengatakan, masalah stuntinng bukan hanya menjadi masalah Nasional lagi tetapi sudah merupakan masalah prioritas di Sumba Tengah. “Soal stunting betul-betul masyarakat sudah memahami dampaknya di Sumba Tengah kaitana dengan pembangunan manusia sehingga butuh keterlibatan semua elemen dalam penanganan,” katanya.

Ia mengatakan, dalam upaya penanganan hingga penurunan angka stunting dari 8,7 persen menjadi 6 persen, Bupati Paulus menunjuk dan menetapkan Bapak Asuh di setiap desa. “Semua pimpinan OPD dan stafnya termasuk pihak ketiga yaitu pengusaha-pengusaha, dan Bank, kami libatkan semua sehingga  peranan mereka menyiapkan makanan tambahan. Dan itu dilakukan berdasarkan Keputusan Bupati,” jelasnya.

Selain itu, Sumba Tengah juga membentuk Tim Pokja Stunting dengan Peraturan Bupati. “Itu kaitan dengan angka kematian ibu dan anak sampai pada angka kematian bayi. Juga ada Tim Percepatan Penurunan Stunting tingkat Kecamatan, yang kita libatkan semua pegawai di Kecamatan dan juga tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Serta Keputusan Tim Pokja tingkat desa, ini yang utama,” jelasnya.

Khusus untuk penanganan stunting, Bupati Paulus meminta dukungan Menko PMK berupa peralatan penunjang. “Kami butuhkan antropometri yang ada saat ini hanya 25 unit, dan masih kurang dan meminta tambahan 115 unit. Sedangkan USG tahun ini kami adakan 1 unit dan kami minta tambahan 2 unit,” katanya.

Tentang Kemiskinan Ekstrem di Sumba Tengah

Bupati Pauus mengatakan, sampai pada tahun 2022 angka kemiskinan di Sumba Tengah ada pada posisi 32,51 persen yang setara dengan 24.490 jiwa. Meski dalam kondisi itu, Pemda Sumba Tengah mengalokasikan beasiswa bagi 1500 mahasiswa dari keluarga miskin.  “Juga pemberian Jamkesra kepada masyarakat miskin, lalu kepada orang miskin ada pembangunan Rumah Mandiri yang saat ini kita sudah bangun untuk 3.288 orang, Juga pemberian bibit dan benih serta sarana prasarana pertanian untuk tanaman hortikultura dan perkebunan termasuk benih padi inpari nutrisi khusus untuk stunting,” ujarnya.

Bupati Paulus menambahkan, tentang penanganan kebutuhan air bersih dan sanitasi lingkungan, saat ini di Sumba Tengah sudah mencapai 70 persen.

Kesempatan tersebut, Bupati Paulus juga memaparkan program Food Estate atau lumbung pangan Nasional sangat membantu peningkatan pendapatan masyarakat Sumba Tengah yang sebagian besarnya adalah petani. Dijelaskan, sesuai kebijakan Presiden Joko Widodo, Sumba Tengah mendapatkan alokasi 10.000 Ha dan kini sudah mencapai 16.000 Ha dengan hanya mengandalkan air hujan.

“Mohon kebijakan Bapak Menko PMK agar berikan kami bendungan. Kami sudah usulkan ke Kementrian PUPR, Bapenas dan Kementrian Keuangan namun belum terjawab. Kalau kami dikasih bendungan maka kami bisa panen 2 sampai 3 kali dalam setahun,” ujar Bupati Paulus.*/)PKP-SumTeng

Editor: Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap