Golkar NTT Seirama dengan Pengusul, Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda Menuju Gelar Pahlawan Nasional

136
Proklamator Soekarno bertemu Frans Seda di suatu kesempatan (foto: dok. KOMPAS, Cinta Bermula dari Maumere, Mengenang Frans Seda)

JAKARTA,SELATANINDONESIA.COM – Sejumlah tokoh pengusul di Jakarta sedang merampungkan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Fransciscus Xaverius Seda atau yang akrab dikenal Frans Seda (1926-2009). DPD I Golkar NTT berada dalam satu garis dan irama yang sama untuk ikut berjuang dan mendukung penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Frans Seda.

Golkar NTT menilai, Frans Seda memang layak mendapatkan anugerah itu karena telah menyumbangkan banyak kontribusi berharga untuk kemajuan bangsa. “Kami berharap agar usulan ini benar-benar bisa melalui berbagai tahapan dan berbagai persyaratan. Sehingga nantinya dalam waktu yang tidak lama lagi bisa mendapatkan gelar Pahlawan Nasional sesuai dengan rekam jejak dan kiprah serta sumbangannya bagi bangsa Indonesia,” sebut Ketua DPD I Golkar NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena kepada SelatanIndonesia.com, Minggu (22/1/2023).

Dikatakan Melki Laka Lena, Frans Seda mengenyam pendidikan ekonomi di Belanda dan memulai karir sebagai Menteri Perkebunan dan Menteri Pertanian di era Soekarno. Ujian terberat yang berhasil dikerjakan dengan sukses adalah berhasil memulihkan ekonomi Indonesia saat peralihan rezim Orde Lama dari Bung Karno ke Orde Baru Pak Harto. “Pak Frans Seda berhasil menekan inflasi yang menggila dan memutar kembali roda ekonomi bangsa yang porak poranda akibat transisi politik,” sebut Melki Laka Lena.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI ini mengatakan, Frans Seda sangat berjasa di bidang ekonomi, politik dan bidang-bidang lain yang terwariskan dalam sejarah yang sampai saat ini masih dipakai di tanah air dan NTT. “Bagi kami Partai Golkar NTT, Pak Frans Seda adalah tokoh yang kita kenal mempunyai reputasi dalam bidang ekonomi yang luar biasa. Kalau kita mengetahui cerita tentang Pak Frans Seda, beliau adalah tokoh yang dipercaya oleh Presiden Soekarno, kemudian pada era transisi kekuasaan di era Presiden Soeharto, Pak Frans Seda sangat berperan dan berkontribusi dalam membangun sektor ekonomi,” sebutnya.

Dijelaskan Melki Laka Lena, di era Soekarno banyak sekali torehan prestasi di sektor ekonomi baik makro maupun mikro. Bahkan, bukan cuma di tanah air tetapi juga di tingkat global, beliau banyak berinteraksi dengan berbagai tokoh untuk mengembangkan ekonomi di dalam negeri. “Tentu di mata kami, Pak Frans Seda bukan sekedar tokoh ekonomi, tapi beliau adalah seorang tokoh politik lintas kelompok. Beliau direkatkan atau dilekatkan dengan partainya Bung Karno dulu PNI sampai kemudian terakhir di PDI Perjuangan, tapi Pak Frans Seda adalah seorang tokoh politik yang melintasi berbagai macam perbedaan dan mampu juga menjadi tokoh politik yang menjembatani berbagai perbedaan politik di tanah air dari mulai zaman Orde Lama,  Orde Baru bahkan sampai di era Reformasi. Juga di era Pak SBY,” ujarnya.

Disebutkan Melki Laka Lena, kendati ia tidak punya banyak waktu untuk berinteraksi langsung dengan Frans Seda lantaran sudah sangat sepuh. Namun ketika muncul persoalan Tibo cs yang hendak dieksekusi mati ketika itu. Pak Frans Seda adalah sosok yang sangat intens berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk membatalkan eksekusi mati terhadap Tibo dan teman-teman dari Flores atas kejadian konflik di Poso.

Karena, menurut Pak Frans Seda dan laporan dari berbagai sumber terpercaya diketahui bahwa Tibo cs ini hanya korban. “Berbagai langkah saya tahu bahwa Pak Frans Seda melakukannya komunikasi dengan para petinggi negeri waktu itu termasuk dengan berbagai jalur di level internasional.  Peran Pak Frans Seda waktu itu yang saya tahu termasuk juga yang harusnya menunda eksekusi mati Tibo cs walaupun akhirnya eksekusi. Tetapi, Pak Frans Seda selaku seseorang yang meyakini bahwa hukuman mati bagi seseorang apalagi yang menurutnya tidak masalah, itu beliau intens berjuang dengan berbagai cara untuk menunda atau membatalkan,” kata Melki Laka Lena.

Melki Laka Lena menambahkan, ia lebih banyak mendengar kiprah Frans Seda dari para tokoh senior, termasuk juga dari anak-anaknya. “Saya cukup dekat dengan anak perempuannya Kaka Ery Seda yang seorang sosiolog hebat di UI dan di tanah air. Memang Frans Seda ini seorang legend yang tidak banyak orang bisa menyentuhnya secara langsung. Tapi cerita-cerita tentang ataupun berbagai macam warisannya juga sampai saat ini masih juga bisa kita dapatkan,” katanya.

Dikisahkan Melki Laka Lena, meski tidak bersentuhan langsung dengan Frans Seda, namun disebutkan bahwa Frans Seda adalah sosok yang mudah untuk menolong orang. “Apabila ada orang-orang yang sudah kenal apalagi orang-orang  yang ditengarai sebagai orang susah atau orang dari memang latar belakang yang sulit, siapapun orang yang dia kenal itu biasanya Frans Seda dengan caranya akan membantu orang tersebut untuk kemudian bisa menemukan solusi. Apalagi terkait dengan soal-soal politik dan ekonomi,” katanya.

Frans Seda juga adalah sosok yang ringan tangan dan tidak pelit dalam berbagi ilmu. “Memang saya tidak bersentuhan langsung tetapi melalui kisah dari para tokoh senior bahwa beliau orang yang suka membantu dan membagi ilmu di berbagai jaman denga napa adanya, tanpa ragu,” kata Melki Laka Lena.

Frans Seda, tokoh nasional tiga zaman kelahiran Lekebai, Desa Bhera, Kecamatan Mego, Sikka, 4 Oktober 1926, pernah menduduki berbagai jabatan menteri selama pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Saat era reformasi, Frans Seda menjadi penasehat otonomi untuk tiga presiden diantaranya BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri.

Seperti diingatkan kembali oleh panitia pengusung di Jakarta (Kompas, 21/1/2023), Frans Seda telah banyak berkontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia. Sebut diantaranya ketika menjabat Menteri Keuangan (1966 – 1968), Frans Seda berhasil mengatasi hiperinflasi yang mencapai 350 persen.

Seperti pernah diakui Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Frans Seda adalah teknokrat generasi awal untuk fondasi perekonomian dan keuangan negara Indonesia. Terkait fondasi ini, ada dua jejak terobosan Frans  Seda yang selalu dikenang. Pertama, mengubah Ditjen Iuran Negara menjadi Ditjen Pajak. Kedua, membentuk Ditjen Bea dan Cukai. Kedua Ditjen itu merupakan cikal bakal pengelolaan penerimaan negara yang terus menopang pembangunan Indonesia.

Selain itu, Frans Seda – ketika menjadi Menteri Pehubungan (1968 – 1973) – dikenang sebagai penggagas transportasi laut dan udara rintisan dengan tujuan khusus membuka isolasi wilayah Indonesia bagian timur.

Di NTT kini, nama Frans Seda telah diabadikan menjadi nama jalan di Kota Kupang dan nama bandara di Maumere. Selain itu, juga diabadikan menjadi nama gedung di Kemenkeu di Jakarta.

Masih banyak jasa kontribusi Frans Seda bagi bangsa Indonesia, yang layak dikenang dan diapresiasi***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap