Kuasa Hukum Keluarga Desak Polisi Usut Meninggalnya Karyawan Hotel Sylvia

146
Kuasa Hukum Keluarga korban Alm. Yahuda Agalakari, Dedy S. Jahapay, S.H dan Jimmy S.N. Daud, S.H, M.H dan perwakilan keluarga saat memberikan ketarngan kepada wartawan di Kupang, Selasa (10/1/2023) malam. Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Yehuda Agalakari, karyawan pada Hotel Sylvia Kupang ditemukan meninggal saat bekerja pada Sabtu pagi 31 Desember 2022. Keluarga Alm. Yehuda Naaman Agalakari melalui kuasa hukum Dedy S, Jahapay, S.H dan Jimmy S.N. Daud, S.H, M.H mendesak aparat Kepolisian agar menyelidiki dan mengusut sebab-sebab kematian Yehuda.

Pasalnya, pihak keluarga menilai ada gejanggalan yang dialami Alm. Yehuda. “Kami sebagai penasehat hukum meminta agar pihak Kepolisian segera melakukan upaya penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut dengan mengambil keterangan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Agar kematian korban yang dinilai janggal dan sangat mencurigakan dapat diketahui secara pasti dan juga agar dilakukan otopsi terhadap jenasah korban,” sebut  Dedy S. Jahapay, S.H dan Jimmy S.N. Daud, S.H, M.H dan perwakilan keluarga di Kupang, Selasa (10/1/2023).

Dedy dan Jimmy, advokat  (pengacara) yang beralamat di Jln HTI Gang V No. 06 Maulafa Kota Kupang ini menjelskan, pada tgl 30 Desember 2022, almarhum sebagai karyawan di hotel Sylvia pada jam 20.00 Wita berangkat untuk bekerja karena yang bersangkutan mendapat tugas bekerja pada malam hari.

“Pada tanggal 31 Desember 2022 jam 06.00 Wita, ada dua orang karyawan Silvya Hotel yang tidak diketahui identitasnya menyampaikan informasi kepada pengampu/majikan korban di Naikolan bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia. Setelah mendengar berita tersebut, Margarita Agalakari langsung menuju ke Hotel untuk melihat jenazahnya. Namun, setiba di Hotel, almarhum sudah dimasukan ke dalam bagasi mobil. Dan, adik almarhum ketika hendak melihat jenasah dilarang oleh pihak hotel dengan alasan dibawa ke rumah sakit untuk divisum,” sebut Dedy S. Jahapay.

Disebutkan Dedy, pihak manejemen hotel dalam hal ini sebagaimana keterangan keluarga korban yang pada saat itu ada di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang,  setelah mengetahui korban meninggal dunia tidak melakukan upaya untuk melaporkan kepada aparat berwajib tapi menyuruh keluarga korban yang melaporkan, hal ini agar bisa dilakukan visum karena atas permintaan pihak Rumah Sakit.

“Selanjutnya korban dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan untuk selanjutnya dikirim untuk dimakamkan di kampung halamannya di Mataru, Kabupaten Alor,” sebut Dedy.

Ia menambahkan, setelah jenazahnya tiba di Alor, keluarga melihat jenazah ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan yakni di sekitar wajahnya terdapat berkas darah dan juga ada semacam cakaran pada wajah. Bahkan, di bibir terdapat lebam yang diduga akibat dari benturan. Juga, di posisi kepala bagian belakang lembek seperti mendapat pukulan. “Bahwa demi kenyamanan jenasah kemudian jenasah langsung dikuburkan ke dalam liang lahat,” ujar Dedy.

Dedy mengatakan, pernyataan yang dirilis oleh beberapa media yang mengatakan bahwa korban meninggal diakibatkan oleh serangan jantung sangat bertentangan dengn kondisi jenasah korban dan juga korban selama hidup tidak punya riwayat penyakit jantung.

Sebelumnya diberitakan, pihak manajemen Hotel Sylvia Kupang bertanggung jawab penuh sejak salah satu karyawannya ditemukan meninggal dunia pada Sabtu (31/12/2022). Bahkan, manajemen memenuhi seluruh hak almarhum Yahuda Agalakari.

Manager Hotel Sylvia Kupang, Andre Pinto kepada SelatanIndonesia.com, Kamis (5/1/2023) mengatakan, almarhum Yahuda Agalakari meninggal diduga akibat serangan jantung saat jam kerja. Yahuda ditemukan dalam posisi tertelungkup di lantai ruang restoran lantai satu Hotel Sylvia Kupang.

“Malam itu beliau jadwal shift malam, kemudian paginya ditemukan dalam keadaan meninggal. Kami langsung memanggil polisi yang kebetulan sedang berjaga di pos depan hotel. Dan kami Bersama Kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap rekaman CCTV dan tidak ditemukan aksi kekrasan ataupun hal lainnya terhadap almarhum,” sebut Andre.

Ia menjelaskan, malam itu korban masuk kerja sebagai karyawan restoran di Hotel Sylvia yang mendapat tugas malam hari. Ia dan salah satu temannya bernama Flajer melaksanakan aktivitas sebagaimana biasa sampai waktu istirahat.

Flajer kemudian pergi mengantar orderan. Sedangkan korban istirahat namun Flajer tidak mengetahui korban istirahat di ruang apa. Setelah saksi mengantar orderan, Flajer istirahat di ruang kafe Hotel Sylvia.

Sabtu (31/12/2022) pagi, Flajer dipanggil oleh pemilik hotel  untuk membangunkan almarhum yang sementara terbaring dalam kondisi tertelungkup di lantai ruang restoran lantai satu. “Saat itu aci pikir almarhum masih tidur makanya suruh Flajer untuk membangunkan. Flajer membangunkan korban dengan cara menggoyangkan kaki sambil memanggil Namanya. Karena  tidak bangun maka aci pikir almarhum sakit, sehingga menyuruh Flajer dan bersama tiga orang karyawan untuk membawa korban ke rumah sakit untuk berobat. Namun kondisi korban pada saat hendak diangkat pada bagian wajah mengeluarkan darah dan badan korban sudah kaku, ” jelas Andre.

Pemilik hotel Silvia kemudian menyuruh salah satu karyawan untuk melaporkan hal tersebut ke pihak kepolisian yang berada di Pos Pantau Indomaret samping Hotel Sylvia.

Personil kepolisian yang melaksanakan pengamanan di Pos Pantau melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Kupang Kota. “Polisi datang dan melakukan penyelidikan. Polisi telah ambil semua bukti dan keterangan, ” tandasnya.

Andre menuturkan, semua biaya keberangkatan dari Kupang sampai Alor ditanggung oleh manajemen hotel Sylvia. Pihak hotel juga memberikan santunan duka  kepada pihak keluarga. “Manajemen hotel saat ini juga sedang mengumpulkan data-data korban untuk klaim BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.

Serahkan Proses Ke Polisi

Sejumlah keluarga karyawan Hotel Sylvia Kupang, Yahuda Agalakari yang  ditemukan tewas di ruang restoran lantai I Hotel Sylvia, Kota Kupang, Sabtu (31/12/2022) lalu mengancam melaporkan manajemen Hotel Sylvia ke Polisi.

Pernyataan ini disampaikan kaka almarhum Yahuda Agalakari, Zeth Agalakari saat menggelar konferensi pers di area kantor DPRD NTT, Kamis, (6/1/2022) siang.

Menurut keluarga, kematian Yahuda Agalakari tidak wajar. Lantaran, ditemukan ada darah yang keluar dari muka dan ada pembengkakan di bagian belakang Kepala. Mereka tidak terima jika Yahuda Agalakari meninggal akibat serangan jantung. Sehingga keluarga korban akan menempuh langkah hukum.

“Setahu kami bahwa keturunan keluarga Agalakari tidak ada yang pernah menderita atau meninggal akibat serangan jantung, sehingga kami menduga saudara kami meninggal tidak wajar, sehingga kami meminta kepada pihak kepolisian untuk segera melakukan penyelidikan dan menuntut supaya pihak hotel tanggungjawab,” kata Zeth Agalakari dilansir dari victorynews.co.id. Ia menambahkan, keluarga besar Agalakari sedang berembuk untuk mengambil langkah hukum.

Manager Hotel Sylvia Kupang, Andre Pinto yang dikonfirmasi mengatakan, manajemen Hotel Sylvia Kupang telah menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak kepolisian. Lanjut Andre, polisi telah melakukan penyelidikan sejak almarhum Yahuda Agalakari ditemukan tewas meninggal di restoran lantai I Hotel Silvia Kupang. “Kami serahkan seluruh proses hukum kepada polisi. Karena sejak awal almarhum ditemukan meninggal di restoran kami telah laporkan kepada pihak kepolisian dan proses penyelidikan sudah dilakukan,” kata Andre.

Menurut Andre, polisi telah memanggil dan meminta keterangan dari para saksi termasuk salah satu rekan almarhum yang bertugas di malam saat kejadian. Polisi pun telah mengambil seluruh rekaman CCTV di ruang restoran.

“Seluruh bukti dan keterangan telah kami berikan kepada polisi. Baik dari rekan kerja yang satu shift malam itu maupun keterangan dari pacar almarhum yang menyampaikan bahwa sebelum meninggal almarhum sekitar pukul 20.00 Wita itu menyampaikan lewat Whatsapp dan mengeluh dada sakit sampai perut sakit, ” jelas Andre.***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap