Dipimpin Inche Sayuna, NTT Siap Deklarasi Tuan Rumah PON 2028 Membangun Peradaban Nusantara dari Nusa Tenggara

218
Ketua Umum KONI NTT, Josef A, Nae Soi dan Ketua Panitia Deklarasi NTT Tuan Rumah PON XXII, Dr, Inche Sayuna dan Penjabat Wali Kota Kota Kupang George M Hadjoh pose bersama jajaran usai Rapat Panitia di KONI NTT, Senin (9/1/2023). Foto: Chyndi

UPANG,SELATANINDONESIA.COM – Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke 22 akan berlangsung pada tahun 2028 mendatang. Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama Nusa Tenggara Barat dipercayakan menjadi Tuan Rumah Bersama ivent bergengsi di tanah air itu.

Sebagai momentum “pembabtisan”, Provinsi NTT segera melakukan deklarasi Tuan Rumah PON XXII  yang waktu pelaksanaan deklrasi direncanakan pada 21 Januari 2023 mendatang. “Waktu deklarasi ini masih tentative dan terus disesuikan dengan jadwal Pak Menpora. Tetapi kita patoknya pada tanggal 21 Januari ini. Tinggal kita menyesuaikan, intinya tempat deklarasinya di Stadion Oepoi, sedangkan waktunya kita menyesuaikan,” sebut Ketua Umum KONI NTT, Josef A, Nae Soi usai rapat panitia Deklarasi NTT Tuan Rumah PON 2028 di Kantor KONI NTT, Senin (10/1/2023). Rapat tersebut dihadiri pula Sekretaris Umum KONI NTT, Lambertus Ara Tukan dan Wakil Ketua I KONI NTT yang kini Penjabat Wali Kota Kupang, George M. Hadjoh.

Nae Soi yang juga Wakil Gubernur NTT ini mengharapkan, momentum deklarasi itu akan dilakukan semeriah mungkin untuk menyampaikan kepada seluruh warga NTT, NTB dan Indonesia bahwa NTT bisa menjadi Tuan Rumah PON bersama NTB. “Bahkan saya sudah komunikasikan dengan Ketua PSSI NTT, Pak Christ Mboeik agar mengundang tim sepakbola dari Timor Leste agar kita lakukan pertandingan sepakbola persahabatan dengan kita di NTT,” sebut Nae Soi, politisi senior Partai Golkar ini.

Ketua Panitia Deklarasi, Dr. Inche Sayuna mengatakan, berbagai persiapan kepanitiaan sedang dilakukan maksimal untuk menyukseskan deklarasi tersebut. “Kita sedang matangkan persiapan dan sesuai rencana deklarasi itu akan dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Zainuddin Amali,” sebut Inche Sayuna usai rapat panitia Deklarasi NTT Tuan Rumah PON 2028 di Kantor KONI NTT, Senin (10/1/2023).

Sekretaris DPD I Golkar NTT dan juga Wakil Ketua DPRD NTT itu menyebut, deklarasi NTT sebagai Tuan Rumah PON 2028 merupakan momentum untuk mengumumkan kepada publik tentang kesiapan NTT dan NTB sebagai tuan rumah. “NTT akan deklarasi dan dihadiri NTB demikian juga sebaliknya, saat NTB deklarasi, kita dari NTT akan hadir. Akan hadir KONI Pusat, Forkopimda NTT dan NTB, Pimpinan DPRD serta KONI NTB. Hadir pula Menpora beserta jajarannya dalam acara deklarasi nanti,” sebut Inche Sayuna.

Dalam pertemuan panitia tersebut juga dilakukan pemaparan konsep acara oleh seksi acara yang dipimpin Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT, Pricilia Parera dan Don Arakian. Disebutkan Pricilia, kegiatan deklrasi NTT Tuan Rumah PON XXII mengusung tema “Membangun Peradaban Nusantara dari Nusa Tenggara, dengan kata kuncinya Kitong Siap,” ujar Pricilia.

Don Arakian menambahkan, momentum deklarasi itu untuk meyakinkan seluruh pihak terutama Pemerintah Pusat dan masyarakat olahraga seluruh Indonesia bahwa NTT-NTB siap menjadi Tuan Rumah PON XXII tahun 2028 nanti.

“Berbagai konsep acara telah kita siapkan untuk memeriahkan acara deklarasi nanti termasuk ada fragmentasi kolosal yang mengisahkan tentang awal kehidupan manusia dari Homo Floreensis,” sebut Arsitek dan Master Tata Kota ini.

Ia menjelaskan tentang sinopsis treatikal kolosal yang akan dipentaskan saat Deklarasi NTT sebagai Tuan Rumah PON XXII. “Berawal dari HOMO FLOREENSIS. Manusia ini akan memasuki panggung sambil membawa sebuah bulan purnama dalam keranjang lalu ia menganyam bulan itu menjadi bola sepak dan mereka bermain di atas danau kelimutu.

Kemudian mereka memasuki hutan dan menemukan pohon pembuat pakaian bangsa Alor, mengenakannya dan terbang di udara sambil berpanah-panahan. Maka masuklah bangsa Sumbawa dan Sumba yang lain memacu kuda yang lain tatikan tarian kataga dan yang lain memberikan gambaran bahwa pasola akan segera dimulai.

Kemudian dibagian panggung yang lain, ada 2 orang Sabu memainkan PELURU (gulat tradisi bangsa Sabu) dibalik bulan purnama. Di bagian panggung yang lain bangsa Lamalera melakukan aksi teatrikal menangkap ikan paus dengan gerak dayung yang khas. Ikan itu terus lompati perahu mereka di udara. Hal itulah yang menyebabkan masuknya renang artistik di tengah panggung. Maka berjalanlah seseorang manusia purba menggadeng tangan 2 atau 3 orang yang mau mengucapkan IKRAR yang akan disambut oleh suara solo dan paduan suara lagu PON terbaru. Itulah sinopsis singkat treatikal kolosal yang didesain,” sebut Don Arakian. ***Laurens Leba Tukan

 

Center Align Buttons in Bootstrap