Yang Cerdas dari Pemprov NTT untuk Jamin Wisata Aman dari Bencana

73
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Dr. Zeth Sony Libing

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Langkah cerdas ditempuh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menjamin pariwisata di provinsi berbasis kepulauan ini aman dan nyaman meski di tengah ancaman bencan.

Melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, berbagai strategi dikembangkan untuk mewujudkan sektor pariwisata menjadi motor penggerak perekonomian NTT sesuai visi Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakilnya Josef A. Nae Soi. Salah satunya adalah mempersiapkan rancangan strategi Pengembangan dan Pedoman Wisata Aman di Provinsi NTT.

Berkolaborasi dengan Program SIAP SIAGA yang merupakan Kemitraan Indonesia-Australia untuk Kesiapsiagaan Bencana, melakukan kajian baseline atau pendataan awal situasi pariwisata aman di 4 Kabupaten di NTT. Kegiatan tersebut dilakukan di New Sasando International Hotel Kupang, Kamis (18/11/2021).

Sejumlah eleman strategis dilibatkan dalam forum tersebut diantara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD NTT) dan Perwakilan BPBD Kota dan Kabupaten di NTT, Perhimpunan Hotel dan Resto Indonesia (PHRI) NTT, organisasi kemasyarakatan, serta wartawan dari berbagai media.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Dr. Zeth Sony Libing mengatakan salah satu kebutuhan wisatawan adalah keamanan dan kenyamanan sehingga tugas pemerintah dan masyarakat adalah memberikan kenyaman termasuk aman dari bencana. “Hari ini kita diskusi terkait tiga hal yakni bisa mengidentifikasi potensi bencana di destinasi wisata, menyiapkan segala fasilitas untuk membantu jika terjadi bencana dan jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan,” sebutnya.

Mantan Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah Provinsi NTT ini mengatakan, dimasa pandemi ini juga ia berharap masyarakat maupun pengunjung harus tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Masker, jaga jarak harus dijaga karena ancaman virus masih mengintai. Kegiatan-kegiatan juga didorong agar mulai gencar dilakukan,” katanya.

Mantan Penjabat Bupati Manggarai ini menambahkan, hingga saat ini masih ada persoalan yang dihadapi NTT karena keindahan alam dan ekonomi kreatif yang luar biasa namun tidak semua orang yang tau. Maka kita butuh pihak lain atau orang lain yang bisa mempromosikan. “Pemerintah bersukur karena grab dan travelloka bersedia mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif di NTT. Kita berharap masyarakat dunia dapat mengenal kekayaan alam dan budaya di NTT melalu promosi ini,” katanya.

Untuk mewujudkan kolaborasi dengan Grab dan Trevelloka, dibutuhkan data yang akurat. “Saya selaku Kadis Parekraf NTT sudah siap menyuplai data yang diminta untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dunia,” ujarnya.

Kepala BPBD NTT, Ambrosius Kodo saat itu mengatakan, forum yang digagas itu sangat penting karena saat ini pemerintah NTT mendorong pariwisata sebagai lokomotif pembangunan sehingga harus ada kolerasi dan sinergitas dalam membangun daerah.

Menurutnya, terdapat kejadian yang tidak selamanya sebagai bencana seperti kejadian gunung api meletus karena selagi belum merugikan atau berdampak kepada masyarakat belum bisa dikatakan seperti bencana. NTT kata dia, memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa dan terkenal. Terbukti banyak wisatawan dari luar negeri yang datang ke NTT. Dengan banyaknya fokus wisata ke NTT, harus disiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kenyamanan wisatawan.

“Wisatawan dan destinasi kita harus aman, terutama aman dari bencana. Kita harus siapkan secara baik dan terintegrasi. NTT memiliki 7 ancaman bencana dan sering terjadi di NTT. Indeks terjadinya bencana juga sangat tinggi. Setiap saat bisa terjadi dan bisa mengganggu kehidupan masyarakat, merusak lingkungan dan lain-lain. Seroja telah memberikan kita pelajaran yang sangat berharga, bagaimana menghadapi bencana dan bagaimana mengatasinya dan apa yang kita lakukan setelah bencana. Ini harus didiskusikan bersama,” katanya.

Ambros juga membeberkan bahwa terdapat 11 kabupaten yang teridentifikasi masuk dalam daerah indeks risiko atau rawan bencana tinggi. Dan 7 jenis bencana yang sering dan bisa melanda wilayah NTT yakni Gempa Bumi, Gunung Berapi (Ada 15 Gunung berapi di NTT), Sunami, Banjir, Tanah Longsor, Kekeringan, Cuaca Ekstrim dan Gelombang Ekstrim.

“Dari ancaman bencana yang disebutkan itu, kita butuh analisa-analasi dari akademisi dan pakar-pakar agar memberikan masukan kepada pemerintah untuk selanjutnya mengambil keputusan yang tepat,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah terus melakukan berbagai tahapan dan persiapan penanggulangan bencana dengan berbagai stakeholders karena bencana bisa dialami oleh siapa saja. “Urusan bencana adalah urusan bersama, tidak semuanya diserahkan kepada pemerintah karena pemerintah hanya menyiapkan regulasi dan mengatur bagaimana penangulangannya sedangkan puhak lain juga mengatur upaya-upaya penanggulangan bencanah. Contohnya seperti penanggulangan covid-19,” ujarnya.

Ambros mengatakan, pada setiap perencanaan harus memperhatikan pentingnya keamanan pariwisata di semua Kabupaten/Kota. Anggaran juga bisa dislokasi sehingga pengadaan alat dan perlengkapan bencana.
“Pelaku usaha juga mesti memiliki SOP (defisit) agar memberikan peringatan dini, gladi dan simulasi dini. Selalu terkoneksi dengan BMKG untuk mengetahui cuaca di semua wilayah. Selain itu, kebutuhan fasilitas untuk disabilitas, karena para disabilities merupakan kelompok rentan terhadap anacaman bencana,” sebutnya.

Baca Juga:  Pemprov Ambil Alih Hotel Plago di Pantai Pede, Dikelola PT Flobamor

Pengurus DPD PHRI NTT, Ari yang juga GM Hotel Sahid Kupang menyebut bahwa bencana merupakan ancaman terbesar bagi bidang usaha wisata karena jika ada kejadian maka usaha ini yang berdampak. Kondisi musim kering juga sangat berdampak saat ini kurangnya sumber air dan ancaman kebakaran juga sangat tinggi. “Masalah bencana kebakaran ada di depan mata namun kita terkesan dibiarkan. Contoh seperti rumput kering, sedangkan mengeliling rumah penduduk mestinya harus cepat diantisipas. Ini tantangan dan PR bagi kita semua,” katanya.

Sebagai pelaku usaha, ia mengusulkan kepada pemerintah agar menyediakan mobil pemadam kebakaran yang cukup, Nomor darurat yang bisa dihubunggi cepat ke Damkar dan BPBD disemua wikayah, Pipa-pipa hydrant untuk di lokasi-lokasi yang dipandang perlu, juga Petugas yang cepat dan tanggap.***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap