NTT YANG LAMBAT PANAS

2184
Matheos Viktor Messakh

Oleh Matheos Viktor Messakh

NTT ini kayaknya slow starter. Di hari-hari terakhir baru bermunculan emas. Saya jadi ingat beberapa kali meliput Asian Games di mana para pejabat Kemenpora dan pimpinan KONI pusat harap-harap cemas kapan bisa dapat emas. Di Asian Games Guangzhou misalnya emas pertama munculnya di hari kesekian di cabang Perahu Naga. Saya ingat venuenya jauh dari Guangzhou sudah dekat ke Hong Kong yaitu Zengcheng Dragon Boat Lake. Saya bersama bis rombongan wartawan ke sana.

Kami turun dari bus pas Tim Indonesia sudah bersiap di garis start dan belum lagi saya merapat di booth wartawan, emas pertama sudah diraih Indonesia. Saya ingat, saya terima histeris meneteskan air mata di pinggir danau yang indah itu. Emas pertama yang ditunggu-tunggu di negeri orang. Siapa yang darah nasionalismenya tidak berdebur-debur? Saya melankolis sendiri di pinggir danau, ditemani kamera, laptop dan alat rekam. Lucu tapi mengharukan.

Pada saat penyerahan hadiah, pejabat China yang timnya cuma dapat perak tak puas dengan kekalahan, sampai nanya saya bolak-balik apakah Tim Perahu Naga Indonesia adalah anggota militer. Dia ikut Saya terus karena tahu Saya dari Indonesia dan bisa bahasa Inggris. Saya jawab: “satu dua mungkin, tapi sebagian besar sipil. Yang militer justru ke tua kontingennya, pak Sutjipto, yang pensiunan Angkatan Laut.” Si pejabat China tak percaya. Dia maunya Saya bilang semua anggota Tim Perahu Naga Indonesia adalah militer sehingga ia bisa menyelamatkan mukanya sebagai Tim unggulan dan tuan rumah yang kalah.

Posisi Indonesia memang pernah berjaya di Asian Games (bukan SEA Games) sebelum runtuhnya Uni Soviet. Memang bukan nomor satu tapi di posisi atas medal chart-lah, bukan posisi-posisi juru kunci. Setelah Soviet runtuh, negara seperti Kazakhstan, Kirgizstan, Turkmenistan, Ajerbaijan dan lainnya yang secara geografis masuk ke wilayah Asia mulai mengikuti Asian Games dan melorotlah posisi Indonesia. Setiap kali Asian Games dada pejabat maupun warga dag dig dug menanti kapan medali emas pertama. Saya ingat bagaimana wajah Mentri Andi Mallarangeng dan ke tua KONI ibu Rita Subowo di hari-hari sebelum dapat emas: lesu.. Foto sarapan pagi bersama keduanya masih saya simpan.

Posisi NTT di PON mungkin mirip dengan Indonesia di kancah Asia. Kalau Indonesia emas itu pasti munculnya dari bulutangkis, pencak silat, Angkat Besi dan angkat berat, kadang panahan dan Perahu Naga, maka NTT biasanya memunculnya emas itu dari cabang-cabang martial art: tinju, muay thay, tarung derajat dan lainnya. Artinya memang kita jago berkelahi. Perhatikan itu! Trend-trend seperti ini seharusnya sudah bisa menjadi pijakan bagi strategi Pembinaan olahraga ke depan.

Jangan urus olahraga yang kirim orang ya seabrek tapi emas satupun tidak. Hanya jadi alasan buat ajang jalan-jalan kerabat dan pejabat saja. Saya ingat ini terjadi misalnya dengan cabang-cabang Aquatic di SEA Games Nakhon Rachasima yang akhirnya bikin para pejabat olahraga berantem sendiri. Saya ingat Saya satu bus dengan mereka dan mereka tidak tahu saya dari Indonesia, mendengarkan pertengkaran dan gossip mereka di atas bis saja bikin benci. Kayaknya ribet saja dengan urusan rebutan sumber daya.

Bagi NTT yang mengaku serba terbatas, prioritas sangat-sangat perlu. Perhatikanlah cabang-cabang yang pembinaannya tidak high cost. Bikin event local yang diakui otoritas olahraga bukan event ecek-ecek, kirim atlet ke kejuaran-kejuaraan single maupun multi event, kirim mereka jangan biarkan mereka berjibaku hanya untuk cari uang ticket. Ciptakan enabling environment, sediakan fasilitas. Jangan tunggu sudah juara baru berlomba kasi hadiah ini itu yang kadang cuma bualan.

NTT perlu langkah strategies Pembinaan atlet. Tirulah Kuba, negara sebesar Timor yang memprioritaskan tinju dan volley yang selalu ditakuti America dan negara-negara besar di ajang Olympiade. Cuma dua: tinju dan volley. Cuma dua tapi siapa yang tidak gentar menghadapi petinju-petinju Kuba? Siapa yang menganggap enteng pemain-pemain volley Kuba? Karena pembangunan gizi negara komunis itu, membuat fisik orang Kuba besar-besar dan tinggi. Mereka tahu kelebihan dan kekurangan mereka. Mereka mengenal diri mereka.

Satu lagi yang perlu diingat, kita tak perlu mengejar prestige juara umum di PON, itu cuma main-mainan para propinsi yang banyak duit. Mereka membeli apa saja termasuk beli atlet. Yang perlu kita kejar adalah apa yang kita unggulkan di PON, unggul juga di kancah yang lebih tinggi seperti SEA Games dan Asian Games, bahkan Olympiade. Itu pilihan strategis. Apa guna emas banyak-banyak tapi di SEA Games saja sudah keok. Makanya pilihan pembinaan harus jatuh pada Olahraga yang nantinya bisa berjaya di luar. Strategi ini telah dilakukan Vietnam misalnya. Coba cek, perolehan medali emas mereka boleh biasa saja di SEA Games tapi di Asian Games atlet mereka juga diperhitungkan. Itu baru smart. Ingat, hanya olahraga yang mampu menyatukan bangsa yang terpecah-pecah!***Penulis Mantan Editor Olahraga The Jakarta Post.

Baca Juga:  Ada Melki Laka Lena dan Dave Laksono Dibalik Keikutsertaan Jeni Kause Wakili NTT di PON Papua
Center Align Buttons in Bootstrap