Ajakan Misionaris Asal Adonara untuk Orang Muda Adonara Menjadi Agen Perdamaian

466
Pater Yohanes Kopong Tuan MSF

Oleh Pater Yohanes Kopong Tuan MSF

Setiap persoalan kadang selalu berujung pada konflik berdarah yang menelan korban. Peristiwa seperti ini kadang menjadi sebuah pemandangan yang memilukan di tanah Damai Adonara. Meski demikian secara pribadi saya sebagai orang Adonara tidak pernah merasa malu karena tragedi tersebut, tetapi mengusik kesadaran saya dalam satu pertanyaan; “mengapa harus berkelahi. Apakah semua persoalan harus diselesaikan dengan perkelahian.”

Dari pertanyaan ini kemudian menggugah kesadaran saya akan apa yang bisa dibuat untuk menjaga tanah Adonara yang damai. Semua anak Adonara tidak akan pernah setuju dengan yang namanya perkelahian ataupun konflik dalam proses penyelesaian sebuah masalah atau persoalan. Namun mengapa selalu dan selalu terjadi konflik ketika ada persoalan?

Saya kemudian menemukan dua hal yang hilang dari rahim Adonara yaitu: Pertama, kurangnya keberanian orang-orang Adonara sendiri baik secara pribadi maupun kelompok untuk menjadi agen yang menyuarakan perdamaian dan lebih suka memperdebatkan konflik itu yang berujung pada mempersalahkan yang lain dan membela yang lain.

Kedua, hilangnya kearifan lokal yang salah satunya duduk dan cerita bersama tentang Adonara yang damai. Banyak mungkin yang berceritera tentang desa atau kampungnya. Tapi mungkin lupa untuk menceriterakan nilai-nilai moral Adonara yang merekatkan satu desa dengan desa yang lainnya sehingga menjadi nilai dan gaya hidup seluruh masyarakat Adonara. Di sisi lain, mungkin juga para tokoh agama dan para pendidik kurang memaksimalkan peran dalam mencari nilai-nilai kearifan lokal Adonara yang bisa dijadikan sebagai sarana pembinaan dan pendampingan orang muda serta pendidikan bagi anak-anak.

Terkait hal pertama. Harus kita akui bahwa banyak dari kita ketika ada persoalan atau konflik di Adonara lebih suka menjadi agen penyebaran foto maupun video tentang kejadian yang sedang terjadi termasuk foto ataupun video para korban namun tidak berpikir apa yang harus dibuat. Termasuk di dalam hal ini adalah diskusi maupun perdebatan yang kadang jatuh pada “penghakiman ataupun hujatan” terhadap kelompok yang terlibat dalam konflik maupun perkelahian tanpa memikirkan langkah-langkah konkrit strategis dan antisipatif yang bisa dilakukan untuk memutus mata rantai konflik berhadapan dengan setiap persoalan yang ujungnya adalah adanya korban.

Dan mengenai hal kedua, masuknya teknologi digital seakan menjauhkan orang muda Adonara dari kebiasaan saling berceritera tentang Adonara sendiri. Masing-masing sibuk dengan hp ataupun sosial media yang lain. Termasuk juga kurangnya pendampingan dan pembinaan dari setiap kelompok peran seperti tokoh-tokoh adat maupun tokoh-tokoh agama sehingga membuat banyak orang muda yang terjebak dalam penyalahgunaan pergaulan.

Orang Muda Adonara: Sahabat Dalam Ziarah Perdamaian

Menyikapi beberapa persoalan terkait perkelahian yang seringkali melibatkan orang-orang muda Adonara misalnya saat pesta dan lainnya maka orang muda Adonara perlu diajak untuk bicara dan berceritera tentang idealisme, tantangan dan peran yang bisa mereka lakukan serta mengajak mereka untuk memberikan pandangan mereka atas setiap perkelahian yang terjadi di kalangan anak muda Adonara.

Bahwa proses perdamaian yang dilakukan antar sesama tokoh masyarakat ataupun adat sangat diperlukan namun peran orang muda tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Karena kita tahu bahwa dalam pergaulan orang muda Adonara, mereka pasti memiliki satu atau dua orang yang sangat mempengaruhi mental, cara berpikir dan pola peri laku mereka. Orang ini, apapun yang dikatakan dan diperintahkan seringkali lebih diikuti oleh mereka.

Maka dari itu, selama proses perdamaian yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat, kita juga perlu melakukan pendekatan pada sosok orang muda yang menjadi sosok yang disegani oleh orang-orang muda lainnya untuk duduk bersama mencari solusi tanpa saling mempersalahkan. Di samping itu kegiatan-kegiatan keagamaan antar sesama orang muda Adonara apapun agamanya perlu digiatkan secara rutin.

Dalam kegiatan ini para orang muda Adonara diajak untuk menemukan sendiri penyebab utama dari terjadinya perkelahian sekaligus menemukan sendiri solusi menyelesaikan konflik.

Orang muda Adonara adalah kekuatan Adonara itu sendiri. Karena ketika ada konflik mereka bisa menjadi agen perdamaian. Maka dari itu ruang-ruang publik misalnya lapangan Waiwerang bisa menjadi sebuah ruang pertemuan orang muda Adonara untuk mengekspresikan minat, bakat dan talenta mereka untuk membangun Adonara yang damai.

Saya punya mimpi bahwa lapangan Waiwerang menjadi ruang perjumpaan antara lantunan koor gereja dan suara kasidah serta ruang perjumpaan sole oha, hedung dan ekspresi musik serta seni lainnya. Mereka datang membawa cerita yang diungkapkan melalui koor, kasidah, sole oha, hedung, musik, lukisan dan pulang membawa cerita tentang persatuan dan perdamaian.***

Baca Juga:  Usung Pendekatan Budaya Lamaholot, Wabup Agus Boli ke Waiwerang Upayakan Perdamaian
Center Align Buttons in Bootstrap