Kesulitan Atasi Api di Lereng Ile Lewotolok, Pemda Lembata Butuh Helikopter Water Bombing

44
Sekda Lembata, Paskalis Ola Tapobali

LEWOLEBA,SELATANINDONESIA.COM – Pemerintah Kabupaten Lembata mengalami kesulitan dalam mengatasi kebakaran hutan akibat erupsi lava panas Gunung Ile Lewotolok dua hari belakangan ini.

Sekda Kabupaten Lembata, Paskalis Ola Tapobali melayangkan surat ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT agar bisa memberikan bantuan berupa helikopter water bombing untuk melakukan pemadaman dari udara.

Kami kesulitan memadamkan api, karena masih berada dalam radius 3 Km, kawasan rawan bencana erupsi. Kami sedang berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTT untuk memberikan dukungan pemadaman dari udara. Muda-mudahan segera direspons dan mendapatkan dukungan,” sebut Sekda Tapobali kepada SelatanIndonesia.com, Kamis (29/7/2021).

Ia menyebutkan, Pemkab Lembata telah membangun konsolidasi dengan para Camat untuk menginformasikan kepada seluruh warga masyarakat di wilayah Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur yang berpotensi kebakaran akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok. “Semua warga harus tetap waspada karena aliran lava pijar yang terjadi,” katanya.

Sebeumnya diberitakan, kobaran api dari lava pijar akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata sejak dini hari tadi hingga malam ini, Rabu (28/7/2021) masih terus menyala.

Kepala Pos Pemantau Gunung Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian kepada SelatanIndonesia.com, Rabu (28/7/2021) malam menjelaskan, titik api sampai saat ini belum juga padam. “Sebaran api saat ini sudah merambat hingga 2 Km dari puncak Gunung Ile Lewotolok,” sebut Stanislaus.

Dijelaskan, erupsi Ile Lewotolok hari ini tercatat 2 kali meletus dengan amplitudo 34-45 mm dan durasi gempa 29-49 detik. “Kolom abu 800-1000 m diatas puncak. Letusan disertai dentuman kuat, lontaran material pijar ke arah Barat Daya, Selatan dan Tenggara gunung. Jarak lontaran 700 hingga 1000 m. Lontaran ini membakar vegetasi di area tersebut sampai sekarang,” ujar Stanislaus.

Teramati, kebakaran vegetasi yang semakin meluas di lereng bagian Selatan dan Barat Daya. “Aktivitas Gunung Ile Lewotolok pada Level III atau siaga, sehingga direkomendasikan kepada masyarakat di sekitar Guntung Ile Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan direkomendasikan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 Km dari puncak/kawah Guntung Ile Lewotolok,” sebutnya.

Stanislaus mengatakan, masyarakat Desa Jontona agar selalu mewaspadai potensi ancaman bahaya longsoran material lapuk yang dapat disertai oleh awan panas dari bagian tenggara puncak/kawah Gunung Ile Lewotolok.

Mengingat potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan (ISPA) maupun gangguan kesehatan lainnya maka masyarakat yang berada disekitar Gunung Ile Lewotolok agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun perlengkapan lain untuk melindungi mata dan kulit,” ujarnya.

Selain itu, mengingat abu vulkanik hingga saat ini jatuh di beberapa sektor di sekeliling Gunung Ile Lewotolok maka masyarakat yang bermukim di sekitar aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Ile Lewotolok agar mewaspadai ancaman lahar terutama disaat musim hujan.

Seluruh masyarakat maupun instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan status maupun rekomendasi Gunung Ile Lewotolok setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation),” katanya.

Ia menambahkan, seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Lembata, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Ile Lewotolok yang tidak jelas sumbernya.

Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Ile Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung,” ujar Stanislaus Ara Kian.***Laurens Leba Tukan

Baca Juga:  Lembata Zona Merah ODP Covid-19
Center Align Buttons in Bootstrap