Dihantam Seroja, 76 KK di Nekemunifeto TTS Hingga Kini Masih Terisolir

149
Ketua DPC PDI Perjuangan TTS, Moerdekae Liu ketika melintasi jalur jalan yang terputus akibat longsor, untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi 76 KK di desa Nekemonifeto, Kecamatan Molo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Minggu (18/4/2021). Foto: Dokumen Deky Liu

SOE,SELATANINDONESIA.COM – Desa Nekemonifeto di Kecamatan Milo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), merupakan salah satu desa yang terkena dampak badai tropis siklon seroja yang terjadi pada tanggal 4-5 April 2021 lalu.

Tiga akses jalan menuju wilayah desa itu yakni desa Bikekneno kecamatan Molo Tengah, Binaus kecamatan Molo tengah dan desa Lelobatan kecamatan Molo Utara putus total akibat longsor saat badai. Akibatnya, sebanyak 76 KK yang terdampak bencana badai hingga kini belum tersentuh bantuan pemerintah.

Ketua DPC PDI Perjuangan TTS, Moerdekae Liu bersama pengurus DPC usai mengunjungi untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi 76 KK di Desa tersebut dan melihat langsung lokasi bencana, Minggu (18/4/2021).

“Pak Pendeta Yan Lemani yang kasih info ke Ibu Ketua PDI Perjuangan Provinsi NTT Mama Emi, dan kami diperintahkan oleh Mama Emi untuk segera mengunjungi warga terdampak bencana disana. Sehingga pada Minggu 18 April kemarin kami antar bantuan kesana. Ketika kami melihat langsung kondisi disana, ternyata desa itu (Nekemonefeto) terisolir. Tiga akses jalan kesitu putus total karena longsor, kami masuk lewat sungai di Bikekneno tapi itu jalannya juga putus. Kami sewa motor ojek Rp 150 ribu per-motor untuk drop bantuan, mereka belum dapat bantuan apapun dari pemerintah,” urai pria yang biasa disapa Deki Liu kepada SelatanIndoesia.com di Soe, Senin (19/4/2021).

Ketua DPC PDI Perjuangan TTS, Moerdekae Liu ketika menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi 76 KK di desa Nekemonifeto, Kecamatan Molo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Minggu (18/4/2021). Foto: Dokumen Deky Liu

Kondisi lain yang sangat memprihatinkan lanjut Deki, ada 4 unit rumah yang tetimbun longsong, kantor desa pung juga menjadi sasaran bencana badai.
Hasil perkebunan semisal jagung dan kacang yang siap panen juga tertimbun material longsong sehingga warga disana terancam gagal panen.

Bersama pengurus PDIP TTS Deki Liu pung berinisiatif melakukan pendata sementara. “Berdasarkan data mentah yang kami lakukan ada 76 KK, 14 KK diantaranya rumah mereka rusak ringan dan berat. Selain kebun dan hasil pertanian lainnya juga tertimbun longsor. Warga disana mengaku sampai saat ini belum mendapat bantuan apapun. Kami ke sana juga membawa sembako dan juga berikan terpal yang bisa dipakai sementara untuk menutup tenda darurat yang mereka bangun,” tutur Deki Liu.

Melihat kondisi yang demikian, Decky Liu mengaku kecewa dengan kinerja Pemkab TTS dalam menangani dampak badai seroja. Kekecewaan Deki Liu cukup beralasan karena ternyata di lapangan masih ada desa yang tidak tersentuh sama sekali dari bantuan Pemkab TTS pasca bencana badai tersebut.

“Saya tidak tahu apakah desa ini juga sudah didata atau belum, kami dengar Senin hari ini baru dari kecamatan mau turun kesana. Pemkab terkesan hanya menunggu laporan dari bawah tapi tidak turun ke lapangan. Pemkab hanya tunggu bola, kesannya seperti itu karena desa ini sampai sekarang belum dapat bantuan, seperti tidak ada perhatian serius dari pemkab kepada mereka disana,” pungkas Deki Liu.**Paul Papa Resi

Editor: Laurens Leba Tukan

Baca Juga:  Berharap Seroja Jadi Pendorong Kelahiran Kabupaten Adonara
Center Align Buttons in Bootstrap