Bersama Uskup Larantuka, Julie Laiskodat Jumpai Korban Badai Seroja di Lembata

385
Anggota Komisi IV DPR RI dari Partai NasDem, Ny. Julie Sutrisno Laiskodat bersama Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung ketika menjumpai para pengungsi korban badai seroja dan banjir bandang di Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT, Sabtu (17/4/2021). Foto: SelatanIndonesia.com/Tedi Lagamaking

LEWOLEBA,SELATANINDONESIA.COM – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Ny. Julie Sutrisno Laiskodat bersama Uskup Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung mengunjungi para korban bencana badai seroja dan banjir bandang di Kabupaten Lembata, Sabtu (17/4/2021).

Ketika tiba di Pelabuhan Jetty Wulenluo, Julie Sutrisno Laiskodat bersama Mgr. Farnsiskus Kopong Kung dijemput Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, Ketua DPRD Lembata Petrus Gero, dan Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Lembata Hendrik Mosa Langobelen bersama jajaran pengurus.

Setelah sapaan adat, Ketua DPD NasDem Lembata Hendrik Mosa Langobelen memakaikan kain tenunan khas Ile Ape kepada Julie Laiskodat. Isteri Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ini memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, dan balita. Ia siap membantu pasokan makanan tambahan dan susu untuk membantu asupan nutrisi bagi mereka.

Saat berdialog dengan para pengungsi di Posko Pengungsi Santo Pius X, Posko Kelurahan Lewoleba Tengah, dan Posko SMPN 1 Nubatukan, berulang kali Julie Laiskodat meminta data lengkap ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, dan balita yang ada di posko penampungan.

“Saya juga meminta diberikan data kebutuhan dasar para pengungsi agar bantuan yang diberikan merupakan bantuan yang benar-benar dibutuhkan,” katanya.

Anggota Komisi IV DPR RI ini mengatakan, bakal memenuhi kebutuhan harian para pengungsi terutama ibu hamil, ibu menyusui, lansia dan anak-anak. Ia juga meminta Kepala Desa Waimatan Mus Betekeneng mencatat semua kebutuhan itu untuk dilaporkan langsung kepadanya.

“Saya sudah membawa pakaian layak pakai untuk kebutuhan para pengungsi. Saya minta Bapak Kades mendata kebutuhan ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita sehingga kita akan mendatangkan makanan tambahan, susu, dan vitamin untuk mereka,” katanya.

Disebutkan Julie Laiskodat, saat ini, kebutuhan makan minum sudah memadai, namun yang perlu dipikirkan adalah menuju bulan kedua, ketiga, dan seterusnya.

“Saya meminta masukan dari masyarakat pengungsi, kebutuhan-kebutuhan yang perlu dibantu selama berada di tempat pengungsian, hingga nanti direlokasi oleh pemerintah. Kebutuhan ibu-ibu didata dan disampaikan. Bagi ibu hamil dan menyusui agar didata dan dapat dipasok nutrisi agar meski dalam masa bencana asupan nutrisi terjamin. Saya butuh masukan dari bawah. Jangan pasrah saja terima-terima padahal tidak butuh,” tegasnya.

Ia juga mengatakan, kebutuhan pendampingan untuk anak-anak selanjutnya, juga sangat diperlukan. “Jika membutuhkan tenaga pendamping psikologis dan pembelajaran, saya siap membantu agar pembelajaran di tempat pengungsian pun tetap dilaksanakan,” ujarnya.

Para guru juga diminta untuk kreatif dalam pembelajaran di tempat pengungsian agar anak-anak tidak semakin stres dalam kondisi seperti saat ini. Tentang permintaan untuk memperhatikan anak-anak yang saat ini kuliah, Julie Laiskodat meminta untuk didata semua anak yang orangtuanya menjadi korban banjir yang saat ini sedang sekolah baik jenjang SD, SMP, SMA, dan di Perguruan Tinggi agar bisa dicarikan jalan keluarnya.

“Saya bisa minta Pak Gubernur untuk bantu biaya (kuliah) beberapa bulan ini selama orangtua di tempat pengungsian. Tapi sekali lagi, saya butuhkan data,” kata Julie Laiskodat.

Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung mengatakan, hari ini merupakan satu kesempatan yang diberikan Tuhan dan patut berterima kasih karena di situasi yang sangat sulit ini, bisa hadir bersama anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat dan Bupati Lembata bertemu dan melihat langsung kondisi para pengungsi.

Sesuai rencana, besok saya misa di Lewotolok. Tapi karena kondisi belum terlalu terang maka saya buat misa di gereja Paroki St. Maria Banneux Lewoleba,” kata Uskup Frans.

Kehadiran di lokasi pengungsian, kata Mgr Frans, mengingat waktunya singkat, sehingga warga pengungsi diminta dapat disampaikan kepada Ibu Julie, bupati juga kepadanya.

Ia juga mengajak semua warga pengungsi untuk berjuang bersama agar cepat melewati situasi sulit yang tengah dihadapi itu.

“Tentu kerja keras pemerintah mulai dari Pusat, Provinsi dan Pemda di sini. Semua kita dalam situasi sulit, situasi darurat tentu tidak bisa buat banyak hal secepatnya, tapi berjuang bersama agar cepat pulih,” kata Mgr. Frans.

Bupati Eliaser Yentji Sunur menyampaikan bahwa semua kebutuhan UMKM milik warga yang rusak akan diganti semuanya. Pemerintah, lanjutnya, sedang mencari rumah untuk disewa supaya bisa pindah ke sana. Skemanya sudah disetujui BNPB yakni penyewaan rumah sampai rumah relokasi disiapkan. Pemerintah juga akan memenuhi kebutuhan makan minum selama di rumah sewa.

Dalam kunjungan itu, Julie Sutrisno Laiskodat berkesempatan bertatap muka dan berdialog dengan.para pengungsi di tiga lokasi penampungan, yakni di Posko SMPS Santo Pius X, Posko Kelurahan Lewoleba Tengah, dan Posko SMPN 1 Nubatukan.

Julie Sutrisno Laiskodat dan Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung bersama Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, serta Ketua Bappilu Partai NasDem NTT, Alexander Ena bahkan rela berjalan kaki dari posko Kelurahan Lewoleba Tengah menuju Posko SMPN 1 Nubatukan untuk bertemu para pengungsi.*)Teddi Lagamaking

Editor: Laurens Leba Tukan

Baca Juga:  Lagi, Sembako dari Melky Mekeng Disalurkan di Hari Valentine
Center Align Buttons in Bootstrap