Setelah Bermalam di Sabu, Gubernur Laiskodat Hari Ini ke Sumba Timur Temui Korban Bencana

73
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ketika hendak meninggakan Bandara Terdamu, Sabu Raijua menuju Sumba Timur, Rabu (14/4/2021). Foto: Tangkapan Video HD

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM– Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat sejak kemarin, Selasa (13/4/2021) menginap di Kabupaten Sabu Raijua melihat dari dekat kondisi korban badai seroja di kabupaten itu. 

Hari ini, Rabu (14/4/2021), Gubernur Laiskodat menggunakan helikopter milik BNPB menuju Waingapu, Kabupaten Sumba Timur untuk menemui para korban badai seroja di Lambanapu serta Karena, wilayah Selatan Sumba Timur. 

Selanjutnya, Gubernur Laiskodat dijadwalkan akan melakukan sejumlah kegiatan di Kabupaten Sumba Tengah diantaranya melakukan panen raya padi pada program Food Estate atau lumbung pangan Nasional. Serta penanaman jagung di lahan seluas 246 Ha di Sumba Tengah.

Baca Juga:  Hugo Kalembu Apresiasi Kegigihan Pemda Sumba Tengah Lawan Hama Belalang

Menurut Gubernur Laiskodat, meski dalam tahapan pemulihan pasca bencana tropis badai seroja, semua program pembangunan di NTT harus tetap berjalan. 

Gubernur Laiskodat mengharapkan agar masyarakat hendaknya tetap optimis dalam menghadapi dampak bencana siklon tropis seroja yang melanda NTT.

Implementasi Program Pemerintah yang sesuai dengan potensi wilayah segera tetap harus dilaksanakan. Khususnya Pertanian, bulan ini masih ada air, segera kita tanam lagi. Siapkan timnya di Dinas Pertanian, kemudian rumput laut kita siapkan benihnya sehingga 45 hari kedepan kita bisa panen. Masalah dapat kita tangani melalui dukungan Pemerintah pusat saat ini,“ sebut Gubernur Laiskodat ketika mengunjungi warga yang tertimpa bencana badai seroja di Kecamatan Haumehara, Kabupaten Sabu Raijua, Selasa (13/4/2021). 

Baca Juga:  Gerak Cepat Kadis Perhubungan Malaka Amankan Instruksi Bupati Atasi Rawan Kecelakaan

Gubernur Laiskodat mengatan, badai yang terjadi di NTT hingga saat ini, telah terjadi dua kali. “Kedepanya kita perlu mengantisipasinya dengan kebijakan yang lebih mementingkan keselamatan masyarakat. Momentum seperti ini, kita belajar, kedepanya agar konstruksi bangunan kita tahan gempa dan bencana, sehingga ketika terjadi bencana, kita siap dan tidak terkena masalah serius sebagaimana yang terjadi di negara maju. Badai di NTT itu pertama kali terjadi pada tahun 1973 dikabupaten Sikka dengan memakan korban yang cukup banyak. Dan kedua di tahun 2021 terjadi lagi di wilayah NTT. Sementara boleh perbaikan yang ada, tapi ke depan harus ada desain standar bangunannya,” ujarnya.***Laurens Leba Tukan

Baca Juga:  Jonas Kecewa Para Nakes Ditarik Pulang dari Yellow Clinic, Walikota Jeriko: “Beta Sonde Tau Sama Sekali”
Center Align Buttons in Bootstrap