Seperti Anak Tiri dari NTT, Sabu Raijua Malah Dibantu Australia

4140
Kapal berbendera Australia ketika berlabu di Pelabuhan Seba membawa bantuan untuk warga terdampak bencana badai seroja di Sabu Raijua, Minggu (11/4/2021). Foto: Tangkapan Video di GWASuaraNTTSatu

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Badai seroja yang melanda Provinsi NTT, Minggu (4/4/2021) silam yang menelan seratus lebih korban jiwa, harta benda dan rumah warga, khususnya di Kabupaten Sabu Raijua, memantik simpatik dari negara tetangga, Australia.

Dalam sebuah postingan video yang beredar di jagad maya, sebuah kapal berbendera Australia, lego jangkar di Pelabuhan Seba, Kabupaten Sabu Raijua, Minggu (11/4/2021). Kapal tersebut membawa bantuan sembako, dan bahan bangunan untuk warga Sabu Raijua yang tertimpa bencana badai seroja.

Perhatian dan misi kemanusiaan yang dilakukan Pemerintah dan rakyat Australia inipun mendapat respons dari salah satu tokoh muda Sabu Raijua di Kota Kupang. Joey Rihi Ga, kepada SelatanIndonesia.com, Selasa (13/4/2021) menyebutkan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Pusat yang sedang bekerja keras menangani bencana seroja tapi ia selaku putra Sabu Raijua merasa dianak tirikan dalam berbagai bentuk perharian.

“Sabu Raijua malahan menjadi yang terakhir dalam perhatian pemerintah. Padahal, pusat siklon ada di laut Sabu. Yang bikin hati sedih adalah Negara Australia malah menjadi tangan pertama yang datang menolong masyarakat Sabu Raijua dengan makanan dan bantuan lainnya. Apa mungkin Astralia lebih peka atau lebih dekat dengan Sabu Raijua? Hanya Tuhan yang tahu. Australian datang menolong tanpa mau dipublikasi. Mereka datang hanya demi kemanusiaan karena  ada tetangga yang mengalami bencana dan butuh bantuan,” sebut jurnalis senior ini.

Joey Rihi Ga mengatakan, ia menjadi ingat tentang sejarah ketika James Cook kehabisan makanan, dia singgah di Sabu Raijua sebelum dia  menemukan Benua Australia. “Mungkin orang Australia tahu sejarah itu. Media secara benderang memberitakan Gubernur sudah sampai ke Rote tapi tidak sampai ke Sabu. Padahal di Sabu, Gubernur sudah diangkat sebagai Raja oleh masyarakat setempat. Bagaimana mungkin raja melupakan rakyat. Di Sabu Raijua memang tidak banyak korban jiwa tapi kehancuran akibat badai sangat luar biasa di pulau tersebut,” katanya.

Disebutkan Joey, sehari sebelum badai, warga kehilangan lahan sawah akibat banjir yang menyapu padi yang sudah hampir masa tuai. “Sebagai manusia, kami di Sabu Raijua juga butuh perhatian dan sentuhan para pemimpin sehingga duka lara yang dirasakan bisa dibagi. Ini adalah suara hati mewakili orang Sabu Raijua,” ujar Joey.***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap