Gubernur Laiskodat: Mestinya Lantang Tolak Wiski dan Wine dari Luar Negeri

430
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat menyebut, mestinya penolakan terhadap perpres usaha minuman keras lokal tidak selayaknya terjadi. “Jika perpres ini menjadi polemik, seharusnya penolakan lebih keras dan mutlak terhadap produk minuman keras dari luar negeri seperti wine, wiski, dan produk-produk lain lebih lantang diteriakkan,” sebut Gubernur Laiskodat seperti dilansir dari detikcom, Rabu (3/3/2021).

Menurut Gubernur Laiskodat, penolakan terhadap produk lokal dan pembiaran terhadap produk sejenis yang dari luar Indonesia merupakan suatu bentuk upaya antek asing menguasai pasar Indonesia. “Provinsi NTT berhak mengembang ekonomi lokal dan masyarakat NTT menempatkan minuman beralkohol sebagai bagian dari budayanya yang selalu hadir di upacara adat wilayah kami,” ujarnya.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Dr. Marius Ardu Jelamu menyebutkan, minuman tradisonal NTT selama turun temurun sudah sangat identik dan melekat dengan kehidupan budaya masyarakat dan erat kaitan dengan potensi alam NTT “Di NTT ini, Tuhan sudah menganugerahkan pohon lontar, aren, kelapa dan sebagainya dan masyarakat NTT dari abad ke abad sudah mengelolah SDA ini dengan mengambil niranya dan menyulingnya kembali menjadi minuman tradisional yang masing-masing daerah menyebutnya dengan berbagai istiliah ada yang menyebut Sopi, Arak, Tuak, Moke dan sebagainya,” sebut Marius kepada SelatanIndonesia.com, Rabu (3/3/2021).

Dijelaskan Marius, minuman tradisional NTT sangat identik dengan eksistensi budaya NTT, lantaran minuman tradisional ini dipakai dalam berbagai upacara adat dan budaya NTT. “Bicara adat pernikahan, kematian dan sebagainya belum bisa dimulai kalau tidak ada minuman ini sebagai simbol kebersamaan dan perdamaian,” ujarnya.

Marius menambahkan, minuman tradisional ini juga secara ekonomis sebagai sumber pendapatan masyarakat, selain untuk upacara adat juga diperjual-belikan menjadi sumber ekonomi masyarakat untuk biaya pendidikan anak, serta kesehatan dan kebutuhan ekonomis lainnya.

Bahkan, kata dia, dalam distribusi ekonimis dan pemasaran terjadi multy player efek karena ada orang yang menyadap, ada yang memasak, ada pula yang menyuling menjadi minuman tradisional lalu dijual. “Karena pengetahuan masyarakat sangat terbatas sehingga ketika menyuling menjadi minuman, dia tidak tahu dan mengerti tentang kadar alkohol dan kandungan metanol dan sebagainya. Sehingga Pemprov NTT bekerja sama dengan Litbang Udana mengadakan riset dan hasilnya dieproleh informsi bahwa kalau minuman itu dikelola secara ilmiah melalaui uji laboratorium maka minuman itu jauh lebih sehat dan terkontrol serta lebih higenis,” jelasnya.

Dikatakan Marius, untuk memproduksinya, Pemrov NTT bekerja sama dengan Undana Kupang untuk membeli minuman tardisonal dari masyarakat yang tidak mengetahui kadar alkohol dan kandungan metanol dan diproses di labortorium dan diprokduski dan hasilnya dinamakan Sophia. “Sophia itu Sopi Asli. Dengan sentuhan laboratorium bisa dikendalikan kandungan alkohol dan metanolnya serta cairan beracun lainnya kemudian ditambah senyawa kimia yang sehat maka Sophia yang bisa dikontrol alkhololnya. Maka ada Sophia yang kandungan alkohol 5 persen, 10 persen, 20 persen bahkan ada yang 40 persen. Yang 40 persen ini bertaraf internasional yang banyak dininati oleh nengara lain, karena setara dengan Wiski, Sake Jepang dan Fodka Rusi,” sebut Marius.

Sophia, minuman tradisional khas NTT yang selama ini diproduksi oleh Pemprov NTT

Marius juga mengatakan, selama ini Indoensia sangat bergantung pada import Wine, Wiski, Rad Lebel, dan sebgaianya yang merupakan minuman keras beralkohol asal luar negeri. “Selama itu Indoensia membeli minuman itu terjadi capital flight atau uang terbang ke luar. Sementara, masyarakat NTT memiliki minuman khas NTT yang menjadi sumber ekonoimi dan melekat pula dengan budaya. Kenapa tidak persoalkan minuman keras import, seperti Wine, Wiski dan Rad Lebel yang selama ini menguasai pasar Indonesia. Kita melihat bahwa upaya menghentikan minamuan tradisonal ini sebagai trik antek asing yang mau mengausai dan memonopoli pasar alkohol,” ujarnya.

Dikatakan Marius, Pemerintah Provinsi NTT melalui telah mengeluarkan Peraturan Gubernur No 44/Tahun 2019, untuk mengatur dan mengontrol distribusi pemasara minuman tradisional. “Dan kita tidak boleh melihat itu sebagai miras, karena sudah dikontrol metanol dan alkoholnya sehingga kalau dikonsumsi tidak memabukkan dan selama ini berdasarkan Pergub tersebut ada batasan usia yaitu 21 tahun keatas baru bisa minum,” ujarnya.

Menurut Marius, jauh sebelum ada Perperes di NTT sudah Pergub yang mengatur tentang pengembangan minuman tradisonal yang sudah menjadi bagian dari kebudayaan dan adat NTT. “Pemrprov NTT bahkan sudah menyiapkan pengadaan 100 unit mesin yang akan dibagikan ke UMKM di NTT untuk bisa mengelola minuman tardisonal ini secara lebih berkualitas yang bisa menjadi minuman bermutu, dan dikonsumsi secara layak dan itu jadi bagian penting dari kebudayaan dan ekonomi masyarakat,” katanya.

Langkah yang ditempuh Pemda NTT untuk menghidupakn ekonomi lokal masyarakat. “Yang paling tau kondisis masyarakat adalah orang NTT sendiri, karena itu perbedaan antara wilayah tidak bisa disamakan dan harus bisa memhamai karakteristik budaya masyarakat di suatu wilayah. Kita tidak bisa memaksakan satu pandangan yang berlaku di tempat lain lalu diterpakan sama di temat yang lain,” ujar Marius.

Dikatakannya, mencabut investasi miras maka sama dengan menutup investasi dari luar untuk kita. “Kita sih oke oke saja, tetapi investasi di wilayah oleh masyarakat sendiri tidak bisa ditolak. Memang ada pencabutan lapmpiran itu kita patuhi, tetapi kalau kita konsen tentang miras maka harus cabut juga ijin miras luar negeri seperti wine, wisky dan rad labet dan lainnya karena itu produk luar negeri. Jangan mematikan ekonomi masyarakat lokal, apalagi di NTT sudah berabad-abad lamanya menjadi minuman kebudayaan yang tidak bisa dilepaspisahkan dari masyarakat NTT, dari aspek budaya dan ekonomi,” kata Marius.***Laurens Leba Tukan

Baca Juga:  NTT, Sopi dan Sophia
Center Align Buttons in Bootstrap