Politisi Golkar Sesalkan RS di Kupang yang Tolak Pasien Darurat

781
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT yang juga Sekretaris Fraksi Golkar, H. Ir. Mohammad Ansor

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Politisi senior Partai Golkar NTT yang juga Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, H. Ir. Mohammad Ansor menyesalkan sejumlah Rumah Sakit di Kota Kupang yang menolak pasien darurat dengan alasan konsentrasi pasien Covid-19, apalagi penolakan itu menyebabkan pasien meninggal dunia.

Kepada wartawan di Kupang, Jumat (5/2/2021) Mohammad Ansor mengatakan, komisi V DPRD NTT sudah berkali-kali menyarankan pihak Rumah Sakit agar UGD dipisah antara pasien Covid-19 dengan pasien penyakit umum lain.

“Pasien biasa wajib mendapat pelayanan yang sama dengan pasien Covid-19. Jangan ditolak, karena itu melanggar UU,” sebut Ansor yang dua periode menjadi Anggota DPRD Provinsi NTT dari dapil Kota Kupang.

Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi NTT ini menyebutkan, Komisi V DPRD NTT akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) agar kejadian ini tidak terulang lagi. “Saya sekelurga menyampaikan duka cita yang mendalam untuk keluarga mahasiswa yang meninggal dunia,” ujarnya.

Baca Juga:  Covid yang Mengganas dan Solusi Penanganan Ketua Fraksi Golkar DPRD NTT

Untuk diketahui, seorang mahasiswa bernama Tripen Kosapilawan (21), mengalami kecelakaan tunggal persis di depan Kampus UKAW, Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Oesapa, pada Selasa 2 Februari 2021 silam. Mahasiswa yang beralamat di RT 02/RW 01, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang ini akhirnya meninggal dunia karena ditolak beberapa rumah sakit.
Penolakan yang dilakukan sejumlah Rumah Sakit lantaran tengah konsen menangani pasien Covid-19.

Marselus Tobe (28), sopir angkutan CS Trans nomor polisi DH 1465 AH yang menolong korban kecelakaan tersebut mengatakan, ia sempat membawa korban ke beberapa rumah sakit, tetapi mereka semua menolak. Marselus menuturkan, pada Selasa (2/2/2021) pagi ia sedang mencari penumpang di seputaran Kelurahan Oesapa dan Penfui. Di depan kampus UKAW, Marselus dihentikan banyak orang dan meminta tolong agar membawa korban ke RSU SK Lerik Kota Kupang. Namun setelah tiba di RSU SK Lerik Kota Kupang, petugas menolak korban karena banyak nya pasien covid-19.

Baca Juga:  NTT dan Timor Leste, Dua Bersaudara yang Saling Menopang

Marselus lalu membawa korban ke RSU Siloam, namun juga mendapat penolakan karena banyaknya pasien covid-19. Petugas RSU Siloam Kupang kemudian mengarahkan Marselus membawa korban ke RS Mamami Kupang.

Dalam perjalanan menuju RS Mamamu, korban mulai kejang-kejang. Karena panik, Marselus kemudian ke Polsek Kelapa Lima melaporkan peristiwa ini sehingga anggota Polsek kelapa Lima mendampingi Marselus membawa korban lagi ke RSU SK Lerik Kota Kupang.

Baca Juga:  Moh. Ansor: Tambahan Anggaran Rp 100 M Diprioritaskan untuk APD dan Insentif Paramedis

Petugas di RSU SK Lerik Kota Kupang menerima korban namun korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Korban kemudian dibawa ke ruang jenasah RSU SK Lerik Kota Kupang. “Korban sudah diambil keluarga untuk dimakamkan,” katanya.

Dirut RS Siloam Kupang dr. Hans Lee mengaku belum mengetahui informasi soal penolakan korban lakalantas. Meski demikian, ia mengaku UGD di rumah sakit Siloam saat ini penuh dengan pasien covid-19. “Saya baru tau informasinya. Saya cek dulu,” katanya.***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap