Di Bukit Food Estate Sumba Tengah, Mentan SYL Bakal Luncurkan Penanaman dan Demo Alsintan

879
Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu bersama tim Protokoler Kementan RI memantau persiapan di Bukit Food Estate, Desa Makatakiri, Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah, Rabu (6/1/2021). Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM – Menteri Pertanian (Mentan) RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) dipastikan bakal meluncurkan penanaman padi sebagai tanda diresmikannya pengembangan program Food Estate atau lumbung pangan nasional di desa Makatakiri, Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah, besok Jumat, 8 Januari 2021.

Selain itu, Mentan SYL juga dijadwalkan bakal meluncurkan program  IP 400 dan Integrated Farming System (IFS) atau Sistem Pertanian Terpadu (SPT) serta menggelar demo penggunaan alsintan dengan mekanisasi di Kabupaten yang kini dipimpin oleh Paulus S. K. Limu dan Daniel Landa itu.

Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu yang ditemui SelatanIndonesia.com ketika bersama tim Protokoler Kementan RI memantau persiapan di Bukit Food Estate, Desa Makatakiri, Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah, Rabu (6/1/2021) menjelaskan, seluruh masyarakat Sumba Tengah sangat bergembira mendapatkan berkat yang sangat berlimpah melalui program Food Estate. “Atas nama seluruh masyarakat Sumba Tengah, kami menyampaikan terimakasih berlimpah untuk Bapak Menteri Pertanian RI yang telah membantu kami melalui program Food Estate, IP 400 dan Integrated Farming System,” sebut Bupati Paulus.

Kabupaten Sumba Tengah kini gencar memajukan sektor Pertanian setelah melalui Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat membuka jaringan ke tingkat pusat untuk mengarahkan program unggulan di sektor pertanian didaratkan ke kabupaten Sumba Tengah. “Ada 5000 Ha yang sudah digarap untuk mendukung Foof Estate. 3000 Ha untuk padi sawah dan 2000 Ha untuk jagung,” sebut Bupati Paulus.

Mantan Kepala Inspektorat Provinsi NTT ini mengatakan, seluruh lahan yang digarap itu merupakan milik masyarakat dan semua alsintan, benih, pupuk dan fasilitas dengan sistim mekanisasi pertanian disiapkan oleh Kementrian Pertanian. “Bahkan untuk penyemprotan septisida menggunakan dround yang merupakan satu-satunya di Indonesia, jadi semprot langsung dari udara. Kami juga mendapatkan Ombain atau mesin panen yang merupakan kombinasi dari tiga operasi yang berbeda yaitu menuai, merontokkan, dan menampi yang dijadikan satu rangkaian oeprasi, ini luar biasa,” sebut Bupati Paulus.

Baca Juga:  Cegah Covid-19, Pemkab Sumba Tengah Alokasikan Dana Rp 5 Miliar

Sebelumnya pada 21/12/2020 silam, Direktur Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Kementerian Pertanian RI Amiruddin Pohan yang dipercayakan Mentan SYL sebagai penanggungjawab Food Estate Sumba Tengah mendatangi lokasi untuk pengresmian benih IP 400 di Desa Umbu Langang, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah.

Menurut Amiruddin, Food Estate dengan IP 400 atau Indeks Pertanaman (IP) Padi 400, merupakan pilihan yang menjanjikan guna meningkatkan produksi padi nasional tanpa memerlukan tambahan fasilitas irigasi dan pembukaan lahan baru. “Konsepnya adalah dalam satu tahun di hamparan sawah yang memiliki irigasi sepanjang tahun, dapat ditanami padi selama empat kali,” sebut Amiruddin Pohan.

Dijelaskan, untuk mempermudah pelaksanaan IP 400 ini dilengkapi pula teknologinya. “Saya minta agar Litbang membantu untuk kawal. Dalam IP 400 ini yang paling penting adalah penggunaan faritas dengan umur yang pendek, sehingga 365 hari dalam setahun sudah dibagi, musim tanam satu diawah 100 hari, dan kemudian nanti sebelum kita panen di 100 hari, dua Minggu sebelumnya sekitar 80-85 hari kita sudah melakukan tabur benih, sehingga ketika panen yang nantinya menggunakan alat panen yang masuk ke sawah, keluar dalam bentuk padi di karung kemudian masuk di pengeringan dan alat pengeringan disiakan nanti. Begitu panen, hari ke 100 kita punya waktu satu Minggu harus dengan tindakan persemaian padi di lahan tersebut untuk musim tanam ke 2, begitu terus berkelanjutan,” jelasnya.

Amiruddin Pohan menjelaskan, IP 400 diterapkan untuk meningatkan produksi pertanian tanpa harus membuka lahan baru. “Jadi kalau kita bisa menerapkan IP 400 maka sama dengan kita menanam di lahan 100 Ha, padahal selama ini hanya ada di 25 Ha satu kali tanam. Jadi ada tambahan 75 Ha. Kalau kita menerapkan IP 400 sama dengan kita tanam di 100 ha,” sebutnya.

Baca Juga:  Sukses Food Estate di Sumba Tengah, Presiden Perluas Lokasi Menjadi 10.000 Ha

Tidak hanya itu, setelah melihat semangat kerja masyarakat Sumba Tengah yang dipimpin langsung oleh Bupati Paulus S. K. Limu yang mampu menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk terlibat, Kementan RI lalu mendaratkan lagi satu program yaitu Integrated Farming System (IFS) atau Sistem Pertanian Terpadu (SPT).

“Artinya ada beberpa komoditas yang kita usahakan disini dan itu saling berintegarasi dan berhubugan satu sama lain. Di sini komoditi dasarnya padi dan jagung, kemudian dari Perikanan dibantu juga beberapa jenis ikan lele, dan nila. Serta dari Direktorat Peternakan bakal bantu sapi dan itik, serta dari Perkebunan supaya indah, maka dikasih kelapa dan jeruk. Dan itu ada di Food Estate tahun ini dan tahun depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan keterpaduan beragam komoditi itu maka masing-masing komoditi saling berkaitan. “Dalam 20 Ha lahan ada sapi, pupuk dari sapi masuk ke sawah, pupuk dari ikan masuk ke sawah, kotoran itik masuk di kolam ikan, dan semuanya saling terintegrasi,” katanya.

Turut hadir dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Sumba Tengah Daniel Landa, Ketua DPRD Kabupaten Sumba Tengah Tagela Ibi Sola, Kadis Pertanian Sumba Tengah Umbu K. Pari, SP dan para asisten dan pimpinan OPD Kabupaten Sumba Tengah.***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap