Bupati Sumba Tengah Alihkan Dana Perjalanan Dinasanya untuk Bansos

707
Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu dan Wakilnya Daniel Landa pose bersama para penerima hiba bantuan sosial usai penyerahan bantuan di depan Kantor Bupati Sumba Tengah, Senin (16/11/2020). Foto: Try

WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan Indonesia saat ini memukul seluruh sendi kehidupan manusia. Tidak terkecuali terjadi di Kabupaten Sumba Tengah yang kini dipimpin Paulus S. K. Limu dan Daniel Landa.

Kedua pemimpin “pekerja” ini rela mengalihkan dana operasionalnya termasuk perjalanan dinas ke luar daerah sebagai Bupati dan Wakil Bupati untuk dijadikan dana Bantuan Sosial (Bansos) untuk para tokoh agama dan pengelola Yayasan dan Lembaga Kemasyarakatan yang selama ini mengurus warga Sumba Tengah.

“Kalau Pak Wakil Bupati, satu kali saja ke Kupang karena itu urusan dengan Bank NTT, tetapi saya tidak pernah ke luar daerah. Jangankan ke Jakarta, ke Kupang saja tidak pernah hampir setahun ini, hanya ke desa saja. Dan dana kami berdua sekitar Rp 2 miliar, saya minta ke Sekretaris BKD keluarkan semua ke Bansos, kita bisa mengehemat, dan syukur kepada Tuhan, hari ini bisa jadi Bansos untuk diserahkan kepada bapa, mama, para pastor, Pendeta dan pengelolah Yayasan dan Lembaga,” sebut Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu ketika berbicara dalam acara penyerahan Bantuan Dana Hibah tahun 2020 kepada 29 penerima bantuan sosial di Aula kantor Bupati Sumba Tengah, Senin (16/11/2020).

Baca Juga:  Kerumunan di Posko Politisi Demokrat untuk Pengambilan Rekening PIP

Dikatakan Bupati Paulus, anggaran untuk Bansos sudah dialokasikan dalam APBD namun karena pandemi Covid-19 melanda sehingga sesuai arahan pemerintah pusat, dilakukan refocusing anggaran sehingga terjadi pergeseran dan pemangkasan. “Saya bilang ke BKD, yang namanya bantuan yang saya dan pak Wakil Bupati sudah umumkan di Gereja, dan Rumah Ibadat lainnya dan semua publik sudah tahu dan mendoakan saya dan Pak Wakil, maka saya tegaksan ke BKD agar segera diatasi, bagaimanapun teknisnya,” ujar Bupati Paulus.

Mantan Kepala Inspektorat Daerah Provinsi NTT ini mengingatkan agar para pemimpin umat dan pengelola Yayasan dan Lembaga agar segera memasukan proposal untuk dianggarkan pada tahun 2021.

“Untuk rumah pastori akan kita bangun di tahun 2021. Kita coba di Mandaliru, dan akhirnya jadi sehingga dibagun rumah mandiri dari APBD dan APBdes. Bukan karena para tokoh agama tidak punya rumah pribadi, tetapi memang ada rumah jabatan, hanya karena itu jemaat yang kerjakan maka itu rakyat saya. Maka untuk mengurangi beban rakyat saya maka kita bangun rumah pastori. Apalagi ada Pendeta yang masih kost. Maka lahirlah rumah mandiri untuk para pendeta dan pastor. Jika ada pemimpin umat msulim para imam dan haji yang harus dibangunkan rumah maka kita akan bantu,” sebutnya.

Baca Juga:  Bupati Rote Ndao Dukung Penuh Festival Desa Binaan dan PAD Bank NTT

Dikatakan Bupati Paulus, bantuan sosial itu lebih banyak dialokasikan untuk beasiswa, dan sampai sekarang mahasiswa miskin sebanyak 1000 orang telah mendapatkan beasiswa dari Pemda Sumba Tengah dengan biaya mencapai Rp 3 miliar.

“Sedangkan beasiswa untuk dokter ada 27 orang dan dokter ahli ada 2 orang. Biayanya Rp 50 juta per semester jadi 100 juta per tahun untuk 2 orang dokter ahli. Kalau dokter umum Rp 25 juta per semester sehingga setahun mencapai 50 juta,” jelasnya.

Bupati Paulus mengharapkan agar bantuan beasiswa orang miskin ini ditetapkan menjadi Perda sehingga menjadi regulasi abadi. “Siapapun Bupatiya harus jalankan karena berkaitan dengan membangun sumber daya manusia Sumba Tengah,” ujarnya.

Dijelaskan, Pemda Sumba Tengah sudah berkomitmen dengan Bank NTT bahwa penyertaan modal sebesar Rp 35 miliar, maka deviden yang diterima setiap akhir tahun sebesar Rp 4,6 miliar sehingga bisa digunakan untuk membiayai para mahasiswa miskin dari Sumba Tengah.

Baca Juga:  Tak Bersertifikat, Sejumlah Pasar di TTS Sulit Dibangun

“Saya mohon DPRD juga mendukung terkait Perda bea siswa abadi di Sumba Tengah karena kalua kita hasilkan tenaga 40 tenaga doketr  dan 20 dokter ahli anak asli Sumba Tengah maka dalam waktu tidak lama kita bisa bangun Rumah Sakit Rujukan di Sumba Tengah. Dan itu bisa terjadi kalua kita punya Perda beasiswa abadi,” katanya.

Sekretaris BKD Sumba Tengah mengatakan, penyerahan hiba Bansos 2020, merupakan bentuk keseriusan dukungan pemerintah terhadap masyarakat melalui lembaga yayasan, dan organisasi masyarakat dalam melaksanakan program dan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan warga masyarakat. Meskipun diasadari bahwa jumlah bansos  yang diberikan sangat terbatasa karena disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

“Dana alokasi hiba bansos ini 90 persen sudah ada di APBD murni 2020, namun karena pandemi Covid-19 sehingga ada kebijakan pemerintah pusat  untuk Sumba Tengah untuk melakukan refocusing ke penanganan Covid-19 teramasuk pemotongan DAU dan DAK. Kondisi ini yang menjadi penyebab, namun karena komitmen Bupati dan Wakil Bupati maka hari ini kita bisa serahkan,” katanya.*)Try/PKPim

Editor: Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap