Milenial dan Perempuan Menjadi Penentu Golkar ke Depan

Oleh:  Grace Gracella

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, maka matilah semua bangsa.” Demikian Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Anak Semua Bangsa). Penggalan kallimat Pram itu, merupakan ajakan bagi orang muda untuk menyadari betapa penting keberadaannya dalam membawa nasib bangsa ini ke depan.

Seperti diucapkan Pram, Ben Anderson, seorang Indonesianis, dalam bukunya Java in a Time of Revolution: Occupation & Resistance, juga menerangkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan pemuda. Pemuda hari ini adalah pencetak sejarah di masa depan.

Penggalan kalimat dari dua penulis kawakan di atas telah menunjukkan, Pemuda dari masa ke masa telah diakui sebagai symbol kekuatan sekaligus perubahan. Karena itu, Partai Politik tak terkecuali Golkar, harus menjadikan pemuda sebagai bagian penting dalam menggerakkan kekuatan politik partai.

Memasuki usia ke-56 Tahun pada 20 Oktober 2020 mendatang, ucapan Pram dan Anderson tersebut mesti dipertimbangkan serius oleh Golkar. Golkar mesti menjadikan kaum muda dan perempuan sebagai tonggak perjuangan politiknya.

Dari segi usia, keberadaan Partai Golkar dalam panggung pentas politik, baik nasional maupun lokal memang diakui sudah teruji dan terbukti. Golkar telah berhasil menorehkan cerita dan warna tersendiri dalam perpolitikan di negeri ini. Sepanjang sejarah orde baru, Golkar berhasil menunjukan kekuatannya dari Pusat hingga daerah.

Kejayaannya di masa lalu, tak berarti tanpa kekurangan, banyak cerita kelam bangsa ini yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah partai bersymbol kuning itu. Dimana, kerap dikaitkan dengan kekuasaan otoritarian Soeharto. Namun hal itu tak mempengaruhi simpaty rakyat paskah runtuhnya kekuasaan Soeharto. Buktinya hingga kini, Golkar terus eksis dan tetap menjadi bagian dari salah satu Partai besar di Indonesia.

Di era sekarang, sebagai partai besar dan telah memberikan banyak sumbangsih dalam pembangunan bangsa ini, Golkar harus terus melaksanakan kerja-kerja pemberdayaan dan kemanusiaan guna mengumpulkan kembali kekuatan-kekuatan Golkar masa lalu, terutama pemberdayaan di level masyarakat milenial dan perempuan.

Bila merujuk sejarah pembentukan Golkar, Ia ditopang oleh banyak organisasi non afiliasi politik.

Dalam buku Munas IV Golkar (1988) dan Golkar Dalam Sorotan: Organisasi Kader, Bukan Sekedar Mesin Pengumpul Suara (1994), Golkar didirikan sejak ditandai dengan penandatanganan Piagam Pernyataan pada tanggal 19 Oktober tahun 1964. Dalam buku itu, dituliskan ”Karyawan oleh Panitia Sembilan dengan semua pendukung lainnya, yang terdiri dari 35 organisasi golongan karya non afiliasi (politik)” dengan nama Sekber Golkar.

Seturut kisah sejarah ini, maka jelas bahwa Golkar didukung oleh banyak organisasi non afiliasi politik. Format yang sama, mesti kembali digarap Golkar dengan menggaet sebanyak mungkin kawula muda milenial dan perempuan, sebagai kekuatan baru dalam politik melalui kerja pemberdayaan.

Baca Juga:  Bamsoet Dukung Keputusan Pembatalan Pemulangan WNI Eks ISIS

Memang pada zamannya, sekber Golkar ini lahir dan kuat untuk melawan rongrongan PKI beserta ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang terus memperlihatkan kekuatan yang terus meningkat karena dukungan kaum muda di zaman itu.

Ini juga membuat Golkar mampu mengantisipasi gerakan PKI yang mulai merambah hingga ke berbagai pelosok saat itu, dengan bergerak cepat menggalang kekuatan-kekuatan rakyat dan organisasi-organisasi sebagaimana disebutkan.

Hasilnya, Sekber yang baru diresmikan itu kemudian berhasil memenangkan empat kali pemilihan umum selama Orde Baru. Namun demikian, sebagaimana semua organisasi di dunia, dalam perkembangannya, sejarah Golkar mengisahkan cerita dalam tantangan yang semakin kompleks di era perpolitikan bangsa ini. Tantangan ini dikultuskan dalam internal juga eksternal partai.

Akbar Tandjung, Ketua Umum Partai Golkar periode 1998-2004, dalam epilognya Menjaga Eksistensi dan Survivalitas Partai Golkar pada buku Jejak Karya Golkar NTT menjelaskan, adanya tantangan internal partai Golkar. Itu adalah bagaimana para pengurus dan kader Partai Golkar mampu untuk senantiasa berpartai dengan baik, kompak atau solid, dan saling bersinergi membesarkan partai. Sedangkan untuk tantangan eksternal, dinamika pembangunan di lingkup nasional dan daerah dihadapkan pada faktor Sumber Daya Manusia dan tantangan revolusi industry di era 4.0 yang kian pesat.

Selain itu, tantangan bidang ekonomi dalam perkembangan politik global, juga tantangan bangsa yang kian majemuk dan plural cenderung mengarah pada disintegrasi bangsa yang ditandai dengan maraknya fenomena politisasi identitas. Selain itu di bidang ekonomi dan politik (demokrasi) catatan terhadap tindakan korupsi adalah PR terdendiri bagi patai Golkar.

Hal ini juga menjadi catatan merah bagi kader partai politik yang masih kian gencar terjerat kasus korupsi. Kesemuaannya ini dirangkum menjadi upaya pembelajaran melalui mekanisme organisasi partai yang elegan, dan demokratis untuk terus meningkatkan kualitas penguatan kelembagaan partai Golkar.

Partai Golkar sebagai partai dominan sepanjang sejarah politiknya, tentu ditopang oleh ketokohan para kader senior yang militan dalam peran dan fungsi sejarah tumbuh kembang Golkar dan telah membawa Golkar pada kondisinya hari ini. Tetapi yang juga penting untuk disiapkan oleh Partai Golkar adalah bagaimana menyiapkan sumber daya potensial politik di Partai Golkar kini dan akan datang.

Perkuat Keterlibatan Milenial dan Perempuan

Merujuk hal ini, maka, generasi muda (milenial) dan kaum perempuan dapat menjadi potensi atau kekuatan baru dalam menjaga nafas keabadian Partai Golkar. Milenial dan Perempuan harus diberdayakan sebagai kekuatan baru dalam menggerakan politik partai Golkar.

Baca Juga:  Cegah Covid-19, PDI Perjuangan NTT Bagi Masker Gratis di Kota Kupang

Merujuk sejarah kejayaan Golkar, perempuan mempunyai peran yang cukup signifikant dalam menjaga eksistensinya sebagai partai politik nasionalis.

Seperti yang terungkap dalam buku Seperempat Abad Golongan Karya, menunjukkan kehadiran perempuan di Partai Golkar telah membawa nilai-nilai baru tentang fungsi kekaryaan, seperti kutipan berikut: “Benih-benih kelahiran Golongan Karya ini mulai bersemi sejak zamannya Ibu Kartini dan Dewi Sartika. Kartini dan Dewi Sartika merupakan karyawan-karyawan wanita yang membawa nilai-nilai baru tentang fungsi (kekaryaannya) sebagai wanita,”

Dalam buku Seperempat Abad Golongan Karya juga menjelaskan bagaimana organisasi pemuda misalnya Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon dan lainnya diakui sebagai bagian dari Golkar, sebagai Kekaryaan Kepemudaan. Maka dalam bahasa yang lebih abstrak, disebut bahwasannya Golongan Karya adalah “Soko Guru Perjuangan Nasional”, sebab semua golongan yang berjuang adalah golongan karya.

Merujuk pada semua fakta sejarah ini, peran angkatan muda (generasi milenial) dan kaum perempuan harus menjadi perhatian serius bagi Partai Golkar ke depan. Dua elemen ini teramat penting guna meningkatkan kapasitas posisi kaum milenial dalam konteks politik dan peran perempuan secara sosial dan politik.

Harus diakui, orang muda dan perempuan adalah wajah pembaharuan politik kini, sebab dalam perkembangannya kejenuhan kaum muda dalam memandang politik adalah melihat politik sebagai ladang kekuasan elite politik dan kaum tua yang enggan melepaskan tongkat kepemimpinan kepada orang muda.

Golkar sebagai partai tua, jangan hanya menyasar yang tua. Untuk merawat Golkar ke depan, harus mendorong kaum muda dan terus memperjuangkan persamaan perempuan dalam berpolitik.

Satu dekade perkembangannya kini, Golkar NTT telah memberi warna baru dalam derap sejarah Partai Beringin itu. Itu ditandai dengan wajah baru kepemimpinan yang didominasi kaum muda dan perempuan, termasuk menjadi tokoh penting di lembaga legislatif. Emanuel Melkiades atau akrab disapa, Melki Laka Lena misalnya, terpilih menjadi ketua DPD I Golkar NTT pada usianya masih 40 tahun.

Sejak dipercayakan sebagai Ketua DPD I NTT, Melki pun terus mendorong keterlibatan kaum muda untuk berpolitik dan bergabung dengan Golkar. “Sebuah upaya serius harus didorong guna melepaskan image atas Golkar sebagai partai orang tua yang hanya didomonasi kaum lelaki. Golkar ke depan harus lebih dominan sebagai partai anak muda, generasi milenial, namun tetap rapat dan akrab dengan para senior dan juga sesepuhnya.” Demikian penegasan Melki Laka Lena dalam suatu kesempatan.

Apa yang dikatakan Melki itu, seperti sabda yang telah menjadi daging. Kini, sebagian besar Ketua DPD Golkar NTT didominasi golongan muda. Bahkan dalam kepengurusannya, Melki mengangkat seorang perempuan muda, Mira Natalia Pellu yang sejak itu masih berusia 22 tahun menjadi Wakil Sekretaris DPD Golkar NTT.

Baca Juga:  Laka Lena: Pemerintah Jangan Hanyut dengan Corona, DBD Lebih Mencekam

Keberadaan Inche Sayuna sebagai Sekretaris DPD I Gokar NTT yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, juga menjadi bukti bahwa kekuatan muda ditambah kekuatan gender menjadi salah satu kunci dalam membangun kekuatan politik partai.

Jejak sejarah Golkar NTT memang menunjukkan, banyak tokoh perempuan yang mengisi ruang-ruang strategis partai. Sebut saja, Maria Agustina Noach juga sangat mengharapkan sudah saatnya Golkar memperjuangkan nasib perempuan.

Perempuan, baginya memperindah politik. Disarankannya agar Golkar NTT untuk membangun sebuah lembaga khusus untuk menaungi dan memotivasi perempuan dalam pelatihan-pelatihan politik. “Saatnya Golkar perjuangkan nasib kaum perempuan.” Katanya seperti tertuang dalam Jejak Karya Golkar NTT.

Selain dia, ada alm. Ibu Maria Boli Tobi Tokan, sosok perempuan Golkar yang inspiratif. Dia adalah Ibu rumah tangga yang dipercayakan jadi anggota DPRD Nusa Tenggara Timur. Kisah politiknya heroic. Di ruang sidang, ia berani berdebat dan berjuang membela kepentingan rakyat. Gubernur Herman Musakabe menyebutnya sebagai salah satu perempuan strategis Golkar. Pesannya tegas, partai golkar harus tetap ada, karena Golkar adalah pengayom dan jangan sampai ada oknum yang merusaknya.” …. “Saya mengajak masyarakat untuk memahami Golkar bahwa Golongan Karya iu artinya bekerja, seperti manusia pertama yang diciptakan Tuhan yaitu Adam bahwa dia ke dunia untuk bekerja menghidupkan dunia ini, dan Golongan Karya bekerja untuk masyarakat.” Demikian yang pernah diungkapkan Maria Tokan dalam Buku Jejak Karya Golkar NTT.

Keterlibatan kaum perempuan di Golkar NTT juga terlihat jelas dalam lembaga legislatif, yang mana di Kabupaten Ende, Margareth H. Siga Sare dipercayakan sebagai anggota DPRD di Kabupaten Ende sekaligus menjabat Wakil Sekretaris di DPD  Golkar Ende. Ada juga Simprosa R. Gandut atau dikenal Osi Gandut, pernah menjadi Ketua DPD Golkar Manggarai sekaligus Ketua DPRD Manggarai.

Di bawah kepemimpinan Melki Laka Lena sebagai Ketua DPD Golkar NTT, partai Golkar kerap menjadi rumah bagi orang muda dalam menyelenggarakan berbagai event. Misalnya Golkar Sport Center yang bertempat di belakang kantor DPD I Golkar NTT, biasanya menjadi tempat berkumpul orang muda untuk menyelenggarakan event futsal, lomba Tiktok Corona Challenges dan nge game PUBG. Kesemuaanya ini menjadi salah satu ceruk baru dalam memberi warna Golkar bagi kaum muda (milenial).

Pada akhirnya, kekuatan kaum muda (milenial) dan perempuan jelas membangun golkar yang lebih baik. Selamat ulang tahun, Golkar. Terus tumbuh dan menjadi kuat dalam badai kuasa!**