Kapolres TTS: Tidak Ada Penyerangan dan Pembakaran di Besipae

Kapolres Timor Tengah Selatan (TTS) Kapolres TTS AKBP. Aria Sandy, SIK

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Kapolres Timor Tengah Selatan (TTS), AKBP. Aria Sandy, SIK menegaskan, tidak ada penyerangan dan pembakaran yang terjadi hari ini di kampung Pubabu, Besipae, Kecamatan Amnuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)

“Tidak ada penyerangan dan kebakaran. Yang ada kebakaran, mungkin akibat puntung rokok, karena pada saat kejadian tidak ada masyarakat yang di lokasi, yang ada di sekitar lokasi hanya apparat,” sebut Kapolres Aria Sandy yang dihubungi SelatanIndonesia.com dari Kupang, Jumat (16/10/2020).

Kapolres Aria menyebutkan, aparat kemanan yang bertugas di Besipae terdiri dari 20 personil Polri dan 50 anggota TNI serta petugas Sat Pol PP Provinsi NTT. “Hari ini tidak ada penyerangan dari warga,” tegas Kapolres Aria. Ia menambahkan, pihaknya tetap menempatkan anggotanya di Besipae selama 24 jam untuk menjaga situasi agar tetap kondusif.

Sebelumnya, beredar informasi di sejumlah media terjadi saling serang terhadap warga Pubabu, Besipae oleh warga dari sejumlah desa di sekitar Kawasan Besipae.

“Masyarakat yang menyerang ibu-ibu di Pubabu itu berasal dari Desa Pollo, Oe’ekam, Enoneten dan Linamnutu. Juga  ada yang dari Desa Mio dan Bena. Saya sejak pagi tadi ada di lokasi kejadian,” sebut Fadly Anetong, Koordinator Aliansi Solidaritas Besipae yang menghubungi SelatanIndonesia.com, Jumat (16/10/2020)

Dikatakan Fadly, hari ini 16 Oktober 2020, rombongan anggota Kepolisian dari Polda NTT datang bertemu dengan masyarakat Pubabu di lokasi (tenda kediaman korba penggusuran). Pertemuan tersebut dimulai pada pukul 10:00 Wita dengan tujuan utama kedatangan Polda NTT untuk memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat Pubabu, Besiape agar tidak terjadi konflik horizontal yang berkepanjangan.

“Pertemuan berakhir pada pukul 12.00 Wita, dan rombongan Polda NTT menuju Lopo yang tidak jauh dari lokasi pertemuan dan sebagian masyarakat menuju kediaman Bapak Yonatan Selan dan sebagian masih tinggal di lokasi (Tenda) untuk mengumpulkan barang yang tercecer akibat pembongkaran yang dilakukan oleh warga Desa Pollo sehari sebelumnya, pada tanggal 15 Oktober,” jelas Fadly.

Baca Juga:  Wagub Nae Soi: Besipae, untuk Bonum Commune Superma Lex

Ia menambahkan, setelah bubarnya Polda NTT dan masyarakat Pubabu dari pertemuan tersebut, beberapa puluh menit kemudian ibu-ibu Pubabu langsung diserang oleh warga dari Desa Pollo. “Mereka bukan hanya memukul ibu-ibu Pubabu tetapi mereka juga membakar rumah milik warga Pubabu atas nama Franas Sae yangg didalamnya terdapat dokumen penting, perabotan rumah, alat bengkel dan uang tunai hasil pinjaman dari koperasi Serviam sebanyak Rp 7 juta, Bank BRI Rp 10 juta dan buku tabungan bernilai Rp 1 juta,” ujar Fadly.

Ia merincikan korban penyerangan itu diantaranya Maria Sae (dipukul dan ditendang), Anida Manisa (ibu hamil 8 bulan, dipukul dan ditarik), Yori Seu (ditarik dari bangku kemudian dipukul dan diinjak), dan Ribka Banamtuan (dipukul).***Laurens Leba Tukan