Presiden Jokowi Diundang Gubernur Laiskodat untuk Panen Garam di Kupang

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ketika melakukan peninjauan dan penen garam di Desa Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Kamis (15/10/2020. Foto:MN/Hms

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Sesuai rencana, tahun depan, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat mengundang Presiden RI Joko Widodo untuk melakukan panen garam di Desa Nunkurus dan Desa Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang Gubernur.

“Kita harapkan semua konstruksi lahan dan produksi garamnya kita  kerjakan dengan sungguh-sungguh. Pompa-Pompa yang dibutuhkan untuk memompa air laut ke dalam bidang lahan tambak yang telah dibangun kita harapkan semua terairi dengan baik. Dan tahun depan kita juga akan mengundang Bapak Presiden datang untuk panen garam bersama di sini,” sebut Gubernur Laiskodat ketika melakukan pemantauan dan panen garam di Desa Nunkurus dan Desa Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Kamis (15/10/2020.

Disebutkan Gubernur, masyarakat NTT terkhususnya di Kabupaten Kupang sangat berterima kasih pada Bapak Presiden Jokowi. “Melalui beliau maka lahan yang sekian lama ‘tidur’ selama 26 tahun lamanya kini sudah dijadikan lahan tambak garam, dan kini bisa dipanen dan akan terus dikembangkan,” sebutnya.

Gubernur Laiskodat mengatakan, produksi garam industri yang dilakukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur akan membantu memenuhi kebutuhan garam nasional dan sebagai bukti kemandirian dan kedaulatan rakyat.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat usai melakukan peninjauan dan penen garam di Desa Babau, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Kamis (15/10/2020. Foto:MN/Hms

Dikatakannya, Presiden Jokowi beberapa minggu yang lalu telah melakukan  rapat koordinasi berkaitan dengan produksi garam sebagai komoditi nasional. “Secara nasional kita masih impor garam 3 juta sekian ton setiap tahunnya. Ini kita bicara tentang kemandirian dan kedaulatan dari sebuah negara dan masyarakat. Kita tidak boleh bergantung pada negara lain, kita harus mampu menghasilkan produk untuk kebutuhan masyarakat salah satunya dengan produksi garam industri dari Nusa Tenggara Timur. Itu namanya kemandirian dan kedaulatan serta tidak bergantung pada negara lain, dan kita mampu berdiri di atas kaki kita sendiri,” jelas Gubernur Viktor.

Baca Juga:  Komitmen Presiden dan Keyakinan Gubernur Tentang Labuan Bajo

Ia menambahkan, Presiden juga tentunya mendukung kerja seluruh petani garam yang ada di Indonesia dan bagi para pengusaha yang punya industri yang berhubungan langsung dengan garam khususnya garam industri harus mampu berinvestasi  di daerah-daerah terkait dengan pengembangan potensi garam. Hasil yang dicapai tentunya dapat membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemandirian untuk memproduksi komoditi garam  bagi kebutuhan nasional.

Ia menambahkan manakala semua dapat diwujudkan maka produksi garam industri akan semakin meningkat dan tentunya akan menurunkan impor garam dari luar.

“Dari lahan tambak garam di Kabupaten Kupang ini ditambah lagi dengan produksi garam di Sabu, Rote, Sumba dan Nagekeo maka diharapkan total produksinya bisa mencapai 1 juta ton per tahun untuk suplai kebutuhan garam nasional. Kita harus kerjakan dengan baik dengan demikian berarti kita sudah mampu untuk memberikan sumbangan yang besar bagi negara dengan garam berkualitas yang mana kadar NaCl nya mencapai 95%”, jelas Gubernur Viktor.

Gubernur mengaku sangat bersyukur karena bisa melakukan panen di wilayah itu bersama masyarakat Kelurahan Babau dan pihak PT Tjkakrawala Timor Sentosa. “Dari data laboratorium yang dilaporkan ke saya bahwa kadar NaCl dari garam disini yang dipanen mencapai 95-96 %. Tadi kita juga lihat tambak garam di Desa Nunkurus yang dikelola oleh PT Timor Livestock Lestari dan untuk sementara keduanya terus dilanjutkan konstruksinya,” ujarnya.

Turut serta mendampingi Gubernur NTT, staf khsus Imanuel Belgur, Kadis Perindag NTT M. Nazir, Karo Kerja Sama dan Investasi Lerry Rupidara dan Karo Humas dan Protokol Marius Ardu Jelamu. *)MN/Hms

Editor: Laurens Leba Tukan