Komisi VII DPR Gandeng PJCI Wujudkan Listrik dari Sumba untuk Indonesia

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat yang didampingi Staf Khusus Prof. Daniel Kameo, Pius Rengka dan Imanuel Blegur bersama Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto dan Ketua PJCI Eddie Widodo dan Tim Teknis ketika memberikan keterangan kepada wartawan di Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT, Jumat (25/9/2020). Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto memboyong Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI), asosiasi yang berpengalaman dalam bidang energi terbarukan dan jaringan cerdas untuk terlibat langsung dalam mendukung dan mewujudkan inisiatif yang dilontarkan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk merealisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Sumba berkapasitas 20.000 MW.

“Kita semua bersyukur dan bahkan terperangah karena NTT ternyata adalah masa depan Indonesia, bahkan masa depan dunia. Karena dari hasil riset diperoleh tingkat insentitas sinar matahari terbaik di Indonesia itu ada di dua pulau di NTT yaitu Sumba dan Timor,” sebut Sugeng Suparwoto ketika menggelar jumpa pers usai audiens dengan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat di Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT, Jumat (25/9/2020).

Politisi NasDem ini mengatakan, dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini yang memukul seluruh sendi perekonomian dunia, maka satu-satunya pintu untuk bangkitnya ekonomi adalah melalui investasi di bidang energi baru terbarukan. “Potensi di Pulau Sumba dan Timor sampai 60.000MW, sedangkan hari ini Indonesia secara keseluruhan sekitar 62.000 MW dan potensi energi sinar matahari di Sumba dan Timor bisa mencapai 60.000 MW. Ini sebuah potensi yang besar sehingga potensi ini harus menjadi sesuatu yang aktual dan riil dengan konsep dasar mulai dimensi teknis dan ekonomi serta sosial menjadi satu kesatuan yang bisa dilaksanakan,” ujar Sugeng.

Disebutkan Sugeng, Komisi VII DPR RI melihat potensi ini dan terus memberikan dukungan penuh terhadap rencana besar pembangunan pusat sumber pembangkit energi surya di Sumba. Ia menyebutkan, pada tanggal 27 Oktober 2020 mendatang, bertepatan dengan Hari Kelistrikan Nasional pihaknya bersama Gubernur NTT akan menghadap Presiden untuk memaparkan rencana ini untuk dijadikan sebagai sebuah keputusan nasional. “Kami akan segera merumuskan skema-skema implementatifnya,” ujar Sugeng.

Baca Juga:  Komisi I DPRD TTS Bakal Undang Lagi Kades Op yang Diduga Pungli BLT  

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengatakan, gagasan membangun listrik tenaga surya dari Sumba untuk memasok kebutuhan energi hingga ke pulau Jawa dan telah melalui tahapan riset. “Ini project yang sangat monumental dan membanggakan bagi Indonesia dan NTT baik dari aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya akan bertumbuh dengan baik,” sebut Gubernur Laiskodat.

Gubernur Laiskodat yang didampingi staf khusus Prof. Daniel Kameo, Pius Rengka dan Imanuel Blegur menyebutkan, lahan yang dibutuhkan untuk membangun investasi itu telah disiapkan di Kabupaten Sumba Tengah.

Pendiri dan Ketua PJCI, Eddie Widodo saat itu mengatakan, pihaknya menyambut baik keinginan Gubernur NTT untuk menjadikan Provinsi NTT, khususnya Pulau Sumba, sebagai pusat pembangkitan energi surya.

“Untuk Pulau Sumba, atau Provinsi NTT umumnya, PLTS mampu beroperasi sepanjang 5 hingga 6 jam sehari. Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta operasional optimal PLTS sehari berkisar antara 3-4 jam.  Dan, kami secara internal telah mendeklarasikan inisiatif ini dengan nama Sumba Untuk Indonesia, dimana dampak yang diberikan, baik dampak secara ketenagalistrikan, ekonomi, maupun pengembangan industri terkait, akan sangat besar apabila inisiatif ini dijalankan dengan baik,” ,” sebut Eddie Widodo.

Eddie Widiono menambahkan, pembangunan kabel bawah laut yang menghubungkan Pulau Sumba hingga Pulau Jawa merupakan trend yang terjadi secara global, dimana lokasi yang memiliki potensi pembangkitan energi terbarukan berada jauh dari lokasi pusat beban. Uni Eropa telah memiliki inisiatif European Super Grid sejak lama, dimana terjadi keterhubungan antara potensi energi terbarukan dengan pusat beban. China dengan State Grid juga melakukan halyang serupa, dimana potensi energi surya berada di daerah gurun yang dihubungkan menggunakan jaringan interkoneksi High Voltage Direct Current (HVDC) menuju kota-kota besar sebagai pusat beban.

Baca Juga:  Pulang Dari Jepang, Enam Pelajar Maumere Dipantau Selama 14 Hari

Disebutkan Eddie Widodo, pada audiensi dengan perwakilan PJCI, Gubernur NTT juga menyampaikan keinginannya supaya inisiatif PLTS Pulau Sumba dan interkoneksi bawah laut turut memberikan dampak ekonomi bagi Pulau Sumba, khususnya, dan Provinsi NTT pada umumnya.

“Kami PJCI memastikan bahwa pembangunan pembangkitan energi terbarukan skala besar telah diakui memiliki manfaat langsung terhadap pertumbuhan pekerjaan dan pengembangan ekonomi. National Renewable Energy Lab (NREL) di Amerika Serikat telah menyusun model Jobs and Economic Development Impact (JEDI) model yang mencoba mengkuantifikasi dampak dari pembangunan pembangkit energi terbarukan,” sambung Eddie Widiono. “Kami mengusulkan kepada Gubernur untuk turut bekerjasama dengan organisasi global yang berfokus kepada pembangunan ekonomi, misalnya dengan UNDP, dalam pengembangan model ekonomi dari pembangunan PLTS skala besar di Sumba,” jelasnya. ***Laurens Leba Tukan