645 Desa dan Kelurahan di NTT Belum Ada Sinyal 4G

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI Johnny G. Plate ketika bersama Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef A. Nae Soi berbicara dalam rapat koordinasi tentang pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Labuanbajo, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (25/9/2020). Foto: Diajeng/Hms

LABUANBAJO,SELATANINDONESIA.COM – Sebanyak 645 desa dan  kelurahan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hingga kini blank spot atau belum ada sinyal 4G. Dari jumlah itu terdiri dari dua kategori yaitu 542 desa dan kelurahan yang menjadi tugas Badan Aksesibilitas Tekhnologi dan Informasi (BAKTI) Kominfo. Dan sisanya 103 desa yang menjadi wilayah kerja mitra kominfo yaitu operator seluler termasuk Telkomsel.

“Tahun 2020 ini, kita akan bangun 121 titik BTS di seluruh NTT. Agar BTS bisa berfungsi dan ada signalnya, kita akan kolaborasi dengan operator seluler,” sebut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI Johnny G. Plate ketika bersama Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef Nae Soi berbicara dalam rapat koordinasi tentang pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Labuanbajo, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (25/9/2020). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari kunjungan kerja Menteri Kominfo di Labuanbajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Menkominfo Jhonny menagatakan, Kementerian Kominfo akan berupaya keras agar desa dan kelurahan yang belum terakses itu pada akhir tahun  2022 bisa dapatkan signal 4G. Disebutkan, komitmen ini didukung oleh pembiayaan dari APBN, penerimaan utang pajak kominfo, dan Universal Service Obligation (USO) atau Kewajiban Pelayanan Universal yang disediakan melalui tarif operator seluler.

“Untuk Provinsi NTT akan dibagi dalam dua tahap, tahun depan kita akan selesaikan 421 desa dan kelurahan dan sisanya tahun 2022,” ujarnya.

Sekjen DPP Partai NasDem ini mengatakan, lisensi yang diberikan negara kepada operator seluler adalah membangun infrastruktur. Namun mengingat tantangan wilayah yang luar biasa berat sehingga pembangunan infrastruktur Teknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) operator seluler tidak bisa mencakup seluruh wilayah di Indonesia.

Di situlah hadir BAKTI untuk mengisi ruang kosong terutama di wilayah 3T. Ini tidak cukup jika dibiayai melalui skema pembiyaan USO. Perlu ada terobosan-terobosan sumber pembiayaan baru yang kali ini ditampung dalam APBN dan penerimaan negara bukan pajak. “Khusus  Manggarai Barat, ada 24 BTS  yang sudah dibangun oleh operator seluler. Juga  ada pilot project Super WiFi dengan jangkauan radius 500 meter. Ini pertama kali di ujicobakan di Indonesia. Bukan satu saja tetapi 20 titik yang sudah aktif dan sudah menghasilkan signal paling kurang 4MB/detik dan bisa sampai 30 MB/detik. Tiga super WiFi akan selesai akhir Oktober sehingga totalnya menjadi 23 Super WiFi,” katanya.

Baca Juga:  Terbaru, 3 Positif Covid-19 dari Ende, Jumlah Kasus di NTT menjadi 71

Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi saat itu mengatakan, perkembangan tekhnologi komunikasi telah membawa perubahan besar dalam hidup manusia.

“Perkembangan telekomunikasi telah merubah peradaban kita. Yang tadinya, kita berkomunikasi dari rumah ke rumah,  fisik per fisik.  Tapi dengan bantuan alat komunikasi, merubah semuanya. Kita bisa berkomunikasi secara virtual, apalagi dalam kondisi Covid-19,” jelas Wagub JNS.

Wagub Nae Soi memberikan apresiasi kepada Kementerian Kominfo yang terus berupaya meningkatkan infrastruktur jaringan telekomunikasi di NTT. “Jaringan internet sangat penting untuk pendidkan dalam situasi saat ini. Kami berterima kasih kepada Presiden secara khusus Menteri Kominfo yang hadirkan super Wi-Fi di Labuan Bajo. Tentu akan lebih super lagi kalau super Wi-Fi ini ada di seluruh kabupaten/kota di NTT,” ujar Wagub.

Tampak hadir pada Rapat Koordinasi tersebut Jajaran Direksi Telkomsel,  Bupati Manggarai Barat, Bupati Sumba Barat Daya dan Sekda Manggarai Timur dan para kadis kominfo atau perwakilan dari kabupaten/kota se-NTT.*)Diajenh/Hms

Editor: Laurens Leba Tukan