Rumah Mandiri Sumba Tengah dan Air Mata Bahagia Wilhelmina Akorya

1165
Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu dan Wakil Bupati, Daiel Landa didampingi Camat Katikutana Selatan dan Kepala Desa Dasa Elu, Robertus Umbu Reni Samapaty, Tenaga Fasilitator Lapangan, dan Pendamping Desa, pose bersama Wilhelmina Akoray usai penyerahan kunci Rumah Mandiri, Senin (10/8/2020) Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM – Wanita tua berbalut selimut biru motif khas tenunan Sumba Tengah dan berkebaya biru muda itu, mulai terbatah-batah dalam berucap. Ia nampaknya tidak sudi menahan haru ketika rumahnya didatangi Bupati Sumba Tengah Paulus S. K. Limu dan Wakilnya, Daniel Landa, Senin (10/8/2020).  Butiran bening air matanya mulai mengalir di pipihnya yang keriput termakan usia.

“Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus karena mendapatkan berkat dari bapak Bupati, dapat satu rumah tembok dan lante keramik,” sebut Wilhelmina Akorya, wanita asal Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang sudah 18 tahun menetap di desa Dasa Elu, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah.

Janda enam anak dengan cucu tiga orang ini memilih untuk menjadi warga negara Indonesia pasca jajak pendapat di Timor Leste bertahun silam. Ia bersama puluhan kepala keluarga lainnya dikirim oleh otoritas ketika itu untuk diungsikan di Kabupaten Sumba Tengah.

18 tahun lamanya, Wilhelmina Akorya bersama enam anaknya dan kini punya tiga orang cucu bertahan hidup dalam keterbatasan di desa Dasa Elu. Ia sudah berpisah lama dengan suaminya yang saat ini sedang berada di Atambua, Kabupaten Belu.

Bertahan hidup dalam serba keterbatasan membuat keluarga Wilhelmina harus banting tulang bekerja tanpa mengenal letih. Untuk membiayai makan dan minum anak-anak dan cucunya, ia harus bekerja kebun di lahan garapan milik warga desa Dasa Elu.

Bertahun-tahun lamanya, Wilhelmina dengan anggota keluarganya bertahan hidup dalam sebuah rumah sederhana berdinding anyaman gedek serta beratapkan seng bekas bangunan lain yang nampak mulai lapuk bahkan berlubang.

Impian untuk membangun sebuah rumah permanen tidak pernah terlintas dalam benak hidup Wilhelmina Akorya, karena biaya untuk makan dan minum bagi seisi keluarga saja sangat sulit baginya.

Baca Juga:  Komisi III DPRD NTT Pastikan Lahan Pabrik Pakan Ternak di Sumba Tengah

Wilhelmina dan sejumlah warga desa Dasa Elu lainnya seakan mendapatkan durian runtuh ketika kecipratan program Rumah Mandiri yang digagas oleh Bupati Paulus S.K. Limu dan wakilnya Daniel Landa. Kebahagiaan yang dialami Wilhelimna juga dialami oleh Marten Nale sekelurga, Melkianus Lende, Marian Dapataka, dan Marthen Nono serta sejumlah warga desa Dasa Elu lainnya.

“Kami bersyukur pada Tuhan telah dibantu oleh Pak Bupati dan Wakil Bupati memberikan kami rumah besar ini untuk kami bisa tinggal di dalam. Kalau kami sendiri tidak bisa bangun rumah tembok dan kramik seperti ini. Kami berdoa supaya bapak Bupati, bapak Wakil Bupati, bapak Camat dan bapa kepala desa tetap sehat dan diberkati Tuhan,” sebut Marthen Nono, pria asal Wejewa, Sumba Barat Daya yang memilih menetap di Kabupaten Sumba Tengah itu.

Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu didampingi Wakil Bupati, Daiel Landa, Camat Katikutana Selatan dan Kepala Desa Dasa Elu, Robertus Umbu Reni Samapaty ketika pengguntingan pita dan penyerahan kunci Rumah Mandiri untuk warga desa Dasa Elu, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, Senin (10/8/2020) Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

Program Rumah Mandiri merupakan salah satu dari sejumlah program unggulan yang dikemas dalam semboyan Pro Oli Milla yang merupakan program prioritas dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat miskin di Kabupaten Sumba Tengah.

Bupati Sumba Tengah, Paulus S. K. Limu yang ditemui di desa Dasa Elu ketika menyerahkan kunci ruamah bagi 10 kepala keluarga penerima bantuan program Rumah Mandiri menyebutkan, sejak tahun 2019, Pemda Sumba Tengah telah membangun Rumah Mandiri sebanyak 1.216 unit rumah yang terdiri dari 326 unit dengan sumber dana dari APBD II Kabupaten Sumba Tengah yang menyebar di 65 desa.

“Tahun lalu juga di 65 desa se Kabupaten Sumba Tengah dibangun 396 unit rumah mandiri yang sumber dananya dari Dana Desa dengan jumlah setiap desa berfariasi ada yang 5 unit, ada yang 6, dan ada yang 7 unit sesuai dengan keuangan desa dan 65 desa itu wajib. Kita juga mendapatkan lagi alokasi dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2019 itu untuk bangun rumah mandiri sebanyak 76 unit. Kemudian dapat juga dana peningkatan kulaitas rumah dari Pemprov NTT di Langgalero 19 unit rumah, juga dari APBN harusnya 400 unit tetapi yang terbangun 399 unit sehigga total di tahun 2019 ada 1.216 unit rumah mandiri yang terbangun di seluruh Sumba Tengah,” sebut Bupati Paulus.

Baca Juga:  Gubernur Laiskodat: Gagal Panen Harus Dihilangkan

Bekas Kepala Inspektorat Provinsi NTT ini mengatakan, pada tahun 2020 ini,  melalui APBD II Kabupaten Sumba Tengah telah dibangun 325 unit rumah mandiri sedangkan yang bersumber dari Dana Desa belum rampung direkap jumlah keseluruhan di 65 desa. “Saat ini masih dalam proses pembangunan dan rata-rata tiap desa, jumlah yang dibangun dengan sumbar uang dari dana desa lebih dari lima unit setiap desa. Tahun ini kita juga dapat alokasi dari DAK untuk pembangunan 112 unit rumah mandiri setelah melihat tahun lalau ada keberhasilan,” ujar Bupati Paulus.

Dikatakannya, program rumah mandiri ini akan berkelanjutan terus setiap tahun selama ia menjabat bupati Sumba Tengah bersama wakilnya Daniel Landa. “Juga program-program Pro Oli Milla lainnya akan berkesinambungan terus selama kepemimpinan kami,” ujarnya.***Laurens Leba Tukan

Center Align Buttons in Bootstrap